Daftar Blog Saya

Entri Populer

Senin, 23 Maret 2009

Pupuk merupakan salah satu faktor produksi utama selain lahan, tenaga kerja dan modal. Pemupukan memegang peranan penting dalam upaya meningkatkan hasil pertanian.

Anjuran pemupukan terus digalakkan melalui program pemupukan berimbang (dosis dan jenis pupuk yang digunakan sesuai dengan kebutuhan tanaman dan kondisi lokasi/spesifik lokasi, namun sejak sekitar tahun 1996 telah terjadi pelandaian produktivitas (leveling off) sedangkan penggunaan pupuk terus meningkat. Hal ini berarti suatu petunjuk terjadinya penurunan efisiensi pemupukan karena berbagai faktor tanah dan lingkungan yang harus dicermati.

Takaran pupuk yang digunakan untuk memupuk satu jenis tanaman akan berbeda untuk masing-masing jenis tanah, hal ini dapat dipahami karena setiap jenis tanah memiliki karakteristik dan susunan kimia tanah yang berbeda. Oleh karena itu anjuran (rekomendasi) pemupukan harus dibuat lebih rasional dan berimbang berdasarkan kemampuan tanah menyediakan hara dan kebutuhan hara tanaman itu sendiri sehingga efisiensi penggunaan pupuk dan produksi meningkat tanpa merusak lingkungan akibat pemupukan yang berlebihan. Dari uraian di atas terlihat bahwa pemakaian pupuk secara berimbang sampai saat ini masih merupakan pilihan yang paling baik bagi Petani dalam kegiatan usahanya untuk meningkatkan pendapatan. Percepatan peningkatan produksi pangan harus dilaksanakan secara konsepsional melalui program sosialisasi yang terpadu.

Pemupukan terhadap satu pertanaman berarti menambahkan/menyediakan unsur hara untuk tanaman. Dengan demikian program pemupukan berimbang dapat saja menggunakan pupuk tunggal (Urea/ZA, TSP/SP-36 dan KCl) dan atau pupuk majemuk (Chemical process atau Physical Blending).

Mengapa pemupukan harus berimbang?

Untuk meningkatkan hasil dan mutu beras, tanaman padi memerlukan zar hara dalam jumlah banyak diantaranya nitrogen (N), fosfat (P), kalium (K) dan belerang (S). Kecuali itu diperlukan hara sekunder Kalsium (Ca) dan magnesium (Mg) serta hara mikro yang jumlahnya sangat sedikit seperti seng (Zn), tembaga (Cu), besi (Fe).

Tanaman yang kekurangan Urea (zat hara N) tumbuhnya kerdil, anakan sedikit dan daunnya berwarna kuning pucat, terutama daun tua. sebaliknya tanaman yang dipupuk Urea berlebihan, tumbuhnya subur, daun hijau anakan banyak tetapi jumlah malai sedikit, mudah rebah dan pemasakan lambat.

Tanaman yang kekurangan zat hara fosfat (P) tumbuhnya kerdil, daun berwarna hijau tua, anakan sedikit, malai dan gabah sedikit, pemasakan lambat dan sering tidak menghasilkan gabah. Sedangkan tanaman yang kekurangan Kalium (K), batangnya tidak kuat, daun terkulai dan cepat menua, mudah terserang hama dan penyakit, mudah rebah, gabahnya banyak yang hampa, butir hijau banyak dan mutu beras menurun.

Gambar 1

Tanaman cukup N

Gejala kekurangan N, daun berwarna kuning coklat

Gambar 2

a. Tanaman cukup P

b. Gejala kekurangan P,
anakan sedikit dan kerdil

Gambar 3

Gejala kekurangan K, daun terkulai mengering mulai dari pinggir daun

Gambar 4

Gejala kekurangan S (belerang), daun muda berwarna kuning pucat

Meskipun kebutuhan zat hara belerang tidak sebanyak N, tetapi apabila kekurangan maka tanaman juga kerdil, daun berwarna kuning pucat, terutama daun muda, hasil gabah, dan mutu beras menurun.

Agar tanaman tumbuh sehat dengan hasil dan mutu beras tinggi, maka zat-zat hara tersebut jumlahnya dalam tanah harus cukup untuk memenuhi kebutuhan tanaman. Apabila salah satu zat hara tersebut jumlahnya dalam tanah tidak cukup, maka hasil dan mutu beras akan menurun. Oleh karena itu pemupukan harus berimbang, dimana jenis dan dosis pupuk harus sesuai dengan kebutuhan tanaman dan jumlah zat hara yang tersedia dalam tanah (tingkat kesuburan tanah).

di ambil dari situs www.pusri.com di poskan oleh lestari tani

Rabu, 11 Maret 2009

PENGENALAN GEJALA SERANGAN HAMA PADA TANAMAN BUAH BUAHAN


HAMA JERUK
lPerusak akar : nematoda Tylenchulus sp.
lPerusak batang : penggerek Agrilus sp.
lPerusak daun : kupu-kupu pastur Papilio sp., kumbang Meleuterpes sp., kutu Diaphorina citri, Aphis sp., Coccus viridis, Pseudoccocus citri.
lPerusak bunga : ulat Prays citri
lPerusak buah : penggerek buah Citripestis sp., ngengat Othreis sp., puru buah Prays endocarpium, lalat buah Bactrocera sp., Ceratitis capitata, kutu Alyurocantus woglumi, Planoccocus citri
Penggerek batang jeruk
a. Kumbang Agrilus sp.
b. Larva kumbang Agrilus sp. dalam batang jeruk
Ulat Perusak Daun Jeruk Papilio sp.
Kumbang perusak bibit jeruk Meleuterpes sp.
Kutu daun jeruk Diaphorina citri
•Serangga pradewasa (telur dan nimfa)
•Serangga dewasa yang aktif terbang
Ngengat buah jeruk Othreis sp.
•Gejala kerusakan pada buah
•Ngengat Othreis sp.
Hama Penting Tanaman Jeruk
lKutu daun jeruk Diaphorina citri (Homoptera : Psyllidae)
lLalat buah Bactrocera sp. (Diptera : Tephritidae)
Kutu Diaphorina citri
Arti penting :
lSecara langsung menyebabkan kerusakan pada tanaman
lSecara tidak langsung sebagai penyebar penyebab penyakit Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD)
Pengelolaan :
lPengendalian kutu ditekankan pada saat tanaman jeruk bertunas
lPemanfaatan musuh alami meliputi pemangsa (kumbang Coccinella repanda, lalat Syrphidae), parasitoid (Tamarixia radiata, Diaphorenchyrtus sp.) dan jamur patogen (Metarhizium anisopliae, Hirsutella thomsoni)
lPengendalian kimiawi dengan insektisida sistemik maupun kontak

Lalat Buah Bactrocera dorsalis
Arti penting :
lHama ditemukan pada banyak jenis buah-buahan (mangga, cabai, belimbing)
lHama merusak pada saat buah menjelang panen
lUmumnya bersamaan dengan serangan hama penggerek buah Citripestis sp.
Pengelolaan :
lPembungkusan buah
lPemanfaatan metil eugenol
lPemanfaatan perangkap kuning
lPemetikan buah terserang dan memusnahkannya
lPengasapan pertanaman

HAMA PISANG
lPerusak akar : nematoda Pratylenchus sp.
lPerusak batang : penggerek batang Cosmopolites sordidus
lPerusak daun : penggulung daun Erionota thrax, kutu Pentalonia nigronervosa
lPerusak bunga : hama kudis Nacoleia octasema
lPerusak buah : kelelawar, burung
Nematoda Pratylenchus sp.
•Gejala kerusakan pada akar
•Kenampakan kerusakan akar (lession)
c dan d. Kenampakan luka pada akar (melintang)

Penggerek batang Cosmopolites sordidus
Penggulung daun pisang Erionota thrax
Hama kudis pisang Nacoleia octasema (Lepidoptera : Pyralidae)
Serangga muncul pada malam hari dan serangan umumnya terjadi pada bunga yang muncul bersamaan waktu terang bulan. Mengapa?
Pengelolaan Hama Pisang
lSecara kultur teknis dilakukan dengan penanaman bibit sehat/tidak terinfeksi virus Bunchy Top
lPengendalian mekanis melalui kegiatan sanitasi untuk menghindari serangan penggerek bonggol pisang, pengambilan larva Erionata thrax dalam gulungan
lPengendalian secara fisik melalui pengasapan bunga pisang yang baru muncul
lPengendalian secara hayati dengan memanfaatkan musuh alami berupa jamur Metarhizium anisopliae untuk mengendalikan Cosmopolites sordidus

HAMA MANGGA
lPenggerek batang : Rhytidodera simulans, Bactocera sp.(Coleoptera : Cerambycidae), Sternochetus sp. (Coleoptera : Curculionidae)
lPerusak daun : ulat api Parasa sp., Setora sp.(Lepidoptera : Limacodidae), lalat puru Procontarinia mattiana (Diptera Cecidomyidae), penggerek pucuk Clumatia sp. (Lepidoptera : Noctuidae)
lPerusak buah : penggerek buah Philotroctis eutraphera (Lepidoptera : Pyralidae), Noorda sp. (Lepidoptera : Noctuidae), Cryptorhinchus sp. (Coleoptera : Curculionidae)
Penggerek Batang
Penggerek buah
Pengelolaan Hama Mangga
lSanitasi kebun, pemusnahan stadia hama. bagian tanaman bergejala serangan/ terserang/tempat hidup hama. Kapan ?
lPemanfaatan perangkap lalat buah : metil eugenol, perangkap kuning
lPembrongsongan buah
lPerlakuan injeksi batang untuk pengendalian penggerek batang dan lalat puru. Kapan?

HAMA SALAK
lPerusak akar : uret Lepidiota stigma
lPenggerek batang : larva kumbang mocong (famili Curculionidae)
lPerusak daun : ulat api Parasa sp., Setora sp. Darna sp., kumbang Abrosia (penggerek pelepah)
lPerusak bunga : larva Nodocnemis sp.
lPerusak buah : ulat penggerek buah dan kumbang penggerek biji buah salak, lalat Carpophilus sp.
Hama Penting Tanaman Salak
Jenis
lUret Lepidiota stigma (Coleoptera : Scarabaeidae)
lPenggerek batang
Ekologi :
Keberadaan hama umumnya sangat dipengaruhi oleh musim atau fatktor lingkungan
Pengelolaan :
lPemilihan lokasi pertanaman, penyesuaian jenis tanah, kadar lengas tanah dan suhu lingkungan
lPangaturan jarak tanam, pemangkasan berkala
lPengaturan irigasi untuk menghindari serangan
lPengendalian secara mekanis terhadap larva penggerek batang
lPenggunaan lampu perangkap untuk menangkap kumbang Lepidiota stigma. Kapan ?


HAMA PENTING DURIAN
Jenis :
lPenggerek batang : Batocera sp., Notopeus sp. (Coleoptera : Cerambycidae)
lPenggerek buah :Hypoperigea leprosticta (Lepidoptera : Noctuidae)
Ekologi
lHama umumnya muncul pada musim penghujan
lCurah hujan dan beberapa jenis parasitoid sebagai faktor mortalitas yang lebih dominan. Kenapa?
Pengelolaan
lSanitasi kebun, pemanfaatan lampu penerangan. Berapa lama?


HAMA PADA BEBERAPA KOMODITAS HORTIKULTURA YANG LAIN
lUlat pemakan daun jambu Carea angulata (Lepidoptera : Noctuidae)
lUlat penggerek buah pete Muscidia pectinocornella (Lepidoptera : Pyralidae)
lUlat penggerek batang jambu air Nothopeus sp. (Coleoptera : Cerambycidae)
lLalat buah pada jambu biji, belimbing, nangka Bactrocera dorsalis (Diptera : Tephritidae)
lUlat kipat Cricula trifenestrata, Attacus atlas (Lepidoptera : Saturniidae) pada jambu mete, sirsak
Ulat bagong Carea angulata (Lepidoptera : Noctuidae)
Hama pengerek buah pete Muscidia pectinocornela
•Buah terserang
•Ulat dalam polong
•Telur
•Larva
•Pupa
•Pupa dalam kokon
•Ngengat

Penggerek batang jambu air dan sawo kecik
Penggerek batang sawo kecik dan jambu air
Luka hama penggerek pada cabang tanaman sawo kecik
Ulat kipat pada jambu air, jambu mete, sirsak
Lalat buah

PENGENALAN GEJALA SERANGAN HAMA PADA TANAMAN PERKEBUNAN

Tanaman Perkebunan
•Teh
•Kopi
•Kelapa
•Kakao
•Kapas


HAMA TANAMAN TEH
•Perusak akar : nematoda Meloidogyne sp., Pratylenchus sp., Rotylenchulus reniformis, dan uret Exopholis sp.
•Perusak batang : rayap Kalotermis sp., Neotermis sp., penggerek batang Zeuzera sp., Xyloborus sp. dan Xylosandrus sp.
•Pemakan daun : penggulung daun Enarmonia sp., Homona sp., pengorok daun Glacillaria theivora, ulat api Darna sp., Parasa sp., Setora sp., Thosea sp., siput Parmarion pupilaris
•Hama penghisap : wereng Empoasca sp., kutu Aphis sp., Coccus viridis, kepik Helopeltis sp., tungau Brevipalpus sp., Calacarus sp., Olygonichus sp.
Hama Penting Tanaman Teh
•Penggulung pucuk : Enarmonia leucostoma (Lepidoptera : Olethreutidae), Homona coffearia (Lepidoptera : Tortricidae)
•Wereng daun Empoasca sp. (Homoptera : Ciccadellidae)
•Tungau Brevipalpus sp., Calacarus sp., Olygonichus sp. (Acarina : Tetranychidae)

Perbedaan Ekologi Hama Tanaman Teh
Penggulung pucuk :
Keberadaannya melimpah pada musim penghujan
Wereng daun dan tungau :
Keberadaanya melimpah pada musim kemarau

Pengelolaan Hama Tanaman Teh
•Managemen pemetikan pucuk
•Pemupukan berimbang
•Pemanfaatan musuh alami
•Penggunaan pestisida selektif (insektisida, acarisida)


HAMA TANAMAN KOPI
•Perusak akar : nematoda Meloidogyne sp., Pratylenchus sp., Rotylenchulus reniformis, dan uret Exopholis sp, kutu dompolan Pseudococcus deceptor, uret Leucopholis rorida
•Penggerek batang :penggerek batang Zeuzera sp., Xyloborus sp. dan Xylosandrus sp.
•Perusak daun : Homona sp., pengorok daun AcrocercopS (Conopomorpha) zamaenopa, ulat api Darna sp., Parasa sp., Setora sp., Thosea sp., ulat jengkal Hyposidra sp.
•Penghisap : kutu perisai Coccus viridis, kutu dompolan Pseudococcus citri, Ferrisia virgata, afis Toxoptera sp.
•Perusak buah : bubuk buah Hypothenemus hampei
•Hama lepas panen : Araecerus sp. dan Carpophilus sp.
Hama Penting Tanaman Kopi
•Penggerek batang Zeuzera coffeae (Lepidoptera : Cossidae), penggerek ranting Xyleborus sp. dan Xylosandrus sp. (Coleoptera : Scolytidae)
•Penggorok daun Conopomorpha zamaenopa (Lepidoptera : Glacillaridae)
•Hama penghisap : kutu perisai Coccus viridis (Homoptera : Coccidae),kutu dompolan putih Pseudococcus citri (Homoptera : Pseudococcidae)
•Hama bubuk buah Hypothenemus hampei (Coleoptera : Scolytidae)
Penggerek Cabang Kopi Xylosandrus sp.
Penggerek buah kopi Hypothenemus hampei
Ekologi Hama Kopi
•Sebagian besar hama kopi bersifat kosmopolitan
•Hama penggerek batang dan pengorok daun umumnya melimpah pada musim hujan
•Hama bubuk menyerang di pertanaman dan berlanjut dalam penimpanan (hama pasca panen)
Pengelolaan Hama Kopi
•Secara mekanis dengan cara pemotongan cabang bergejala serangan penggerek dan lelesan untuk buah terserang hama bubuk
•Secara kultur teknis dengan cara pemangkasan, pemupukan, pengaturan jarak tanam
•Secara hayati dengan memanfaatkan musuh alami berupa jamur entomopatogen (Beauveria bassiana dan Metarhizium anisopliae) untuk hama bubuk, penggerek ranting
•Secara kimia dengan menggunakan pestisida


HAMA KELAPA
•Perusak batang : Oryctes rhinoceros, Dynastes gideon, Rhyncophorus sp.
•Pemakan/perusak daun : Artona sp., ulat api Setora sp., Darna sp., Parasa sp.,Calchoceillis sp., belalang Sexava sp., Locusta sp., Valanga sp., Oxya sp., ulat kantung Mahasena sp., ulat Hidari sp.
•Penghisap : kutu kapok Aleyurodichus sp., kutu perisai Aspidiotus sp.
•Perusak bunga : ulat Tirathaba sp. dan Batrachedra sp.
•Perusak buah : tupai dan tikus
•Hama gudang : Corcyra sp., Dolessa sp., Necrobia sp., Carpophilus sp., Oryzaephilus sp., Tenebroides sp.
Hama Penting Tanaman Kelapa
•Kumbang nyiur Oryctes rhinoceros (Coleoptera : Scarabaeidae)
•Kumbang sagu Rhyncophorus ferugineus (Coleoptera : Curculionidae)
•Ulat Artona xatosantha (Lepidoptera : Zygaenidae)
•Ulat api Setora nitens, Parasa sp. Darna sp. (Lepidoptera : Limacodidae)
•Kutu perisai Aspidiotus destructor (Homoptera : Diasphididae)
•Belalang kembara Locusta migratoria (Orthoptera : Acrididae) dan belalang kayu Valanga ningricornis (Orthoptera : Tettigonidae)
•Hama mayang Batrachedra sp. (Lepidoptera : Cosmopterygidae) dan Tirathaba sp. (Lepidoptera :Pyralidae)
•Hama buah Tikus (Ratus tioomanichus) dan tupai

Hama mayang
Pengelolaan Hama Kelapa
Kumbang nyiur Oryctes rhinoceros
•Secara fisik dengan perangkap lampu
•Secara mekanis dengan pengumpulan larva dan pupa pada media perangkap
•Secara hayati dengan memanfaatkan jamur Metarhizium anisopliae dan virus Baculovirus oryctes
•Secara kimiawi melallui injeksi batang dengan insektisida
Pengelolaan kumbang sagu Rynchoporus ferugineus
•Hama ini merupakan hama sekunder yang muncul setelah luka oleh serangan kumbang Oryctes rhinoceros, oleh karena itu dilakukan pencegahan terjadinya luka batang tanaman di bagian pucuk
•Pengendalian secara hayati dengan memanfaatkan jamur Metarhizium anisopliae
•Pengendalian secara kimiawi dengan insektisida melalui injeksi
Pengelolaan Hama Perusak Daun dan Mayang Kelapa
•Pengendalian secara bercocok tanam dilakukan melalui pembersihan tanaman penutup tanah sementara untuk mencegah peletakan telur belalang
•Metode pengendalian secara kimiawi merupakan salah satu yang pernah dipraktekan, yaitu menggunakan insektisida melalui injeksi batang
•Pengendalian secara hayati yang dapat dilakukan adalah dengan memanfaatkan musuh alami hama kelompok parasitoid dan pemangsa:
Tabuhan Apanteles artonae untuk ulat Artona
Tabuhan Chelonus sp. untuk hama mayang Batracedra sp.
Kumbang Chilocorus politus untuk kutu perisai Aspidiotus destruct
Pengelolaan Hama Perusak Buah (Tikus dan Tupai)
•Pengaturan jarak tanam
•Sanitasi kebun
•Penggunaan barier
•Pemanfaatan musuh alami : burung hantu Tyto alba untuk mengendalikan tikus


HAMA KAKAO
•Penggerek batang : Zeuzera sp., Indarbela sp., Xylosandrus sp.
•Pemakan daun : ulat api Setora sp., Darna sp., Parasa sp., kumbang Adoretus sp.
•Penghisap buah : kepik Helopeltis sp. dan kutu dompolan Pseudococcus citri
•Penggerek buah : Conopomorpha cramerella
•Hama lepas panen : Corcyra sp. dan Ephestia sp.
Hama Penting Kakao
•Penggerek batang Zeuzera coffeae (Lepidoptera : Cossidae)
•Kepik Helopeltis sp. (Hemiptera : Miridae)
•Penggerek buah Conopomorpha cramerella (Lepidoptera : Glacillaridae)
Penggerek buah kakao Conopomorpha cramerella
Kepik Helopeltis sp.
Pengelolaan Hama Kakao
•Pengendalian secara fisik dengan cara pembungkusan buah untuk mencegah serangan penggerek buah
•Pengendalian secara mekanis melalui eradikasi tanaman terserang Conopomorpha cramerella
•Pengendalian secara hayati dengan memanfaatkan musuh alami berupa pemangsa dan patogen hama :
–Semut untuk mengedalikan Helopeltis sp.
–Burung hantu Tyto alba untuk mengendalikan tikus
–Jamur Beauveria bassiana untuk penggerek cabang
–Jamur Verticilium sp. untuk penggerek buah
•Secara kimiawi dengan insektisida kimia maupun toksin produk mikrobia Bacillus thuringiensis (delta endotoksin)


HAMA TANAMAN KAPAS
•Perusak akar : Meloidogyne sp.
•Penggerek : Earias sp.
•Pemakan daun : ulat tanah Agrotis sp., ulat grayak Spodoptera litura, Helicoverpa armigera
•Penghisap : wereng daun Empoasca sp., kutu kebul Bemisia tabaci, kutu Aphis gossypii, tungau Tetranichus sp.
•Perusak buah : ulat buah Helicoverpa armigera, Earias sp., kumbang Pectinophora sp., kepik Dysdercus cingulatus,

Hama Penting Tanaman Kapas
•Hama wereng Empoasca sp. (Homoptera : Ciccadellidae)
•Hama perusak daun : ulat tanah Agrotis epsilon (Lepidoptera : Noctuidae), ulat grayak Spodoptera litura (Lepidoptera : Noctuidae)
•Hama perusak buah : Earias sp. dan Helicoverpa armigera (Lepidoptera : Noctuidae)

Pengelolaan Hama Penting Tanaman Kapas
•Pemanfaatan tanaman jagung, gen Bacillus thuringiensis (transgenik), parasitoid telur (Trichogramma sp.) sebagai pengendali ulat buah Helicoverpa armigera
•Pemnafaatan musuh alami kelompo parasitoid dan pemangsa :
–Geocoris sp. untuk mengendalikan ulat grayak
–Lalat Tachinid (parasitoid) untuk mengendalikan ulat buah H. armigera

Kamis, 05 Maret 2009

asalamualaikum wr wb

salam kenal
apabila teman -teman ingin tanya masalah dunia pertanian silahkan anda mengirimkan pesan ke blog ini

bagi-bagi teman-teman yang ingin belajar dan mempelajari dunia usaha pertanian silahkan kirim email ke antohpt07@yahoo.com apa yang ingin usahan teman

PEMAHAMAN TENTANG HAMA : BATASAN DAN ARTI

PEMAHAMAN TENTANG HAMA : BATASAN DAN ARTI

Kapan suatu herbivora dapat disebut hama? Pendefinisian hama merupakan pendefinisian yang bersifat "antroposentrik", berpusat pada kebutuhan manusia. Pengetahuan tentang dasar-dasar biologi menunjukkan bahwa herbivora, jasad pemakan tumbuhan, merupakan suatu kumpulan trofi yang memang bertugas mengatur populasi tumbuhan (atau secara metabolis, herbivora adalah jasad yang hanya mampu memanfaatkan energi yang telah diolah, atau jasad heterotrof). Herbivora ini disebut hama atau jasad pengganggu (OPT, Organisme Pengganggu Tanaman) karena memakan tumbuhan yang diusahakan baik secara ekonomis maupun subsisten, oleh manusia.

Pengertian terakhir inilah yang membedakan herbivora dengan hama. Karena didefinisikan melalui kebutuhan manusia, maka seharusnya kedudukannya tidak dianggap sebagai pengganggu ("nuisance"), melainkan resiko ("risk"), karena akan selalu dijumpai selama manusia menyelenggarakan usaha pertanian. Pertanian, terutama yang mengutamakan penanaman satu jenis (univarietas, monokultur) memang mengandung resiko didatangi herbivora, karena :
Monokultur pada prinsipnya bertentangan dengan keanekaragaman hayati
Keberadaan tumbuhan/tanaman dalam jumlah banyak pada suatu hamparan pasti akan menarik herbivora
Sebagai suatu ekosistem binaan, ekosistem pertanian mencari keseimbangan homeostasis dengan membentuk piramda makanan khusus dalam ekosistem ybs.



Kenyataan di atas menyebabkan perlunya strategi atau taktik khusus menghadapi hama, dengan tetap mengingat bahwa tujuan yang terutama bukanlah memusnahkan jenis-jenis hama yang hadir, tetapi menjaga keseimbangan ekologi sehingga interaksi antar komponen lingkungan dalam agroekosistem mampu menghasilkan kestabilan kondisi interna. Oleh karena itu filosofi pengendalian hama saat ini bukan lagi bertujuan membersihkan atau memusnahkan jasad "pengganggu", melainkan menyelenggarakan usaha pertanian yang harmonis dengan kehidupan ekologis lingkungannya, tanpa harus mengalami kerugian ekonomi.

Kehadiran jasad herbivora dengan demikian dihadapi berdasar pertimbangan ekologi, biologi dan ekonomi. Hubungan jasad herbivora menuju ke kerugian ekonomi secara lateral adalah sebagai berikut:

individu ® spesies ® populasi ® serangan ®® kerusakan ® kerugian

Hubungan di atas menunjukkan bahwa jasad herbivora yang terdiri atas individu akan berkumpul membentuk populasi dan bersama-sama melakukan "serangan" (dilihat dari sisi jasad herbivora) sehingga mengakibatkan "kerusakan" (dilihat dari sisi tumbuhan) dan menimbulkan "kerugian ekonomi" (dilihat dari sisi kepentingan penanam/manusia)

Hubungan tersebut kemudian juga menekankan pentingnya "jumlah anggota populasi" sebagai tolok ukur kerugian (atau kemungkinan kerugian) yang terjadi. Dari segi ini, maka jumlah anggota populasi merupakan tolok ukur arti penting bahaya hama bila dilihat dari :
Mudah atau tidaknya jumlah anggota populasi meningkat. Populasi serangga hama pada umumnya menjadi penting karena kemampuan peningkatan populasi dengan cepat menuju jumlah tinggi
Kemampuan merusak individu jasad. Seekor gajah meskipun hanya satu akan menimbulkan kerusakan yang lebih besar dibanding dengan seekor wereng batang padi.
Kedudukan/peran jasad pengganggu dalam hubungannya dengan pengganggu yang lain. Kutu afid yang menjadi vektor meski jumlahnya hanya sedikit harus segera diwaspadai karena memiliki potensi merusak yang besar

Dilihat dari sisi tumbuhannya, kerusakan yang terjadi juga dapat menjadi penting jika:


Bagian tanaman yang dirusak memiliki arti ekonomi penting. Ulat yang menyerang daun tembakau atau daun kubis merupakan pengganggu yang penting dibanding dengan ulat yang menyerang daun padi atau daun kelapa, karena nilai ekonomi kubis dan tembakau terdapat pada daun. Dengan demikian hama buah kakao, hama biji kopi, hama batang tebu dan seterusnya merupakan hama penting untuk masing-masing komoditas tersebut.
Kerusakan tidak hanya berakibat menurunnya kuantitas tetapi juga menurunkan kualitas. Hama pascapanen yang tidak hanya menurunkan berat bahan simpanan tetapi juga mengotori produk jelas lebih merugikan dibanding yang hanya mengurangi bobot produk. Hama-hama hortikultura yang merusak kualitas menjadi amat penting meski tidak mengurangi berat atau volume produk.
Kemampuan toleransi atau resistensi tumbuhan terhadap jasad herbivora. Tumbuhan yang lebih cepat pulih, atau tidak mudah rusak karena serangan jasad pengganggu menyebabkan jasad herbivora yang memakannya kurang atau bahkan tidak diperhatikan sebagai penyebab kerugian.
Tanaman/tumbuhan yang menghasilkan produk bermanfaat justru karena serangan hama malahan diharapkan, agar tanaman diserang jasad pengganggu. Kehadiran ulat kipat (Cricula trifenestrata) pada tanaman kedondong atau alpukat misalnya, seringkali malah diharapkan oleh penanamnya. Demikian juga kehadiran kutu yang mengundang semut rangrang (Oecophylla smaradigna), acapkali dibiarkan saja karena larva semut memiliki nilai ekonomi sebagai pakan burung.

Selanjutnya, kerugian ekonomi yang timbul juga masih akan dilihat dari nilai ekonomi produk yang dihasilkan tanaman. Tanaman dengan nilai ekonomi tinggi akan dilindungi dari serangan hama dengan lebih intensif daripada tanaman yang nilainya rendah. Kerugian ekonomi dengan demikian didefinisikan berdasar kepada sifat-sifat jasad pengganggu, sifat-sifat tanaman maupun sitindak atau interaksi antara keduanya beserta lingkungan sekitar (biologi dan ekologi); dan sifat sosio-ekonomik tanaman maupun usaha taninya bagi si penanam.

Pemahaman ekologi menyebabkan kedudukan habitat jasad pengganggu perlu diperhatikan. Selama ini barangkali jasad pengganggu hanya dikenal pada lingkungan pertanian. Namun sesungguhnya ekosistem di luar pertanian pun juga tidak lepas dari serangan jasad pengganggu. Wilayah perkotaan yang berkembang dengan membina pertamanan, paru-paru kota, menghijaukan tepi jalan maupun median (pertengahan) jalan, kompleks pemukiman yang mengutamakan kehijauan dan kerindangan, padang dan lapangan olah raga; semuanya merupakan ekosistem binaan di luar pertanian yang tak lepas dari serangan jasad pengganggu. Sayang perhatian terhadap hama-hama urban semacam ini di negeri kita masih belum berkembang dengan baik.

Hama dan Komoditasnya : Pengantar

Pada akhirnya pembicaraan mengenai hama akan sampai kepada hubungannya secara langsung terhadap jenis tanaman yang diserangnya, atau komoditas yang menderita kerusakan dan kerugian karena gangguan hama. Pengelompokan hama pada masing-masing komoditas ditekankan kepada hubungan ekonominya, sehingga terdapat hama penting (major pests), hama kurang penting (minor pests), hama kadang-kadang (occasional pests) dan hama migran (migrant pests). Untuk penggolongan hama dalam suatu komoditas yang lebih jelas dapat dilihat pada Untung (1993).

Penggolongan hama dapat dilakukan pula berdasar kelompok komoditasnya. Penggolongan ini mengelompokkan hama menjadi
Hama Tanaman Pangan
Hama Tanaman Hortikultura
Hama Tanaman Perkebunan
Hama Hutan, di luar lingkup)
Hama Urban/Perkotaan (taman dan lapangan)
Hama Pascapanen
Hama Ternak dan Perikanan, di luar lingkup pembicaraan)



Meskipun kadang menjadi kurang praktis (karena secara budidaya antara kelompok komoditas mungkin terdapat salingtindih dalam teknik pengelolaannya), namun yang menjadi penting adalah pemahaman mengenai sistem tempat hama berada, sehingga hubungan pengelolaan hama dengan faktor produksi atau faktor pengelolaan lain dapat lebih mudah dipergunakan untuk mengatasi permasalahan.

Empat langkah yang dipergunakan mengatasi permasalahan hama (terutama serangga) adalah (1) identifikasi jasad pengganggu, (2) mengukur kuantitas pengaruh jasad pengganggu terhadap tanaman, (3) mempertimbangkan apakah pengelolaan diperlukan, dan (4) menerapkan taktik pengelolaan hama yang tepat. Jika yang diamati adalah hama sebagai individu, maka tekanannya adalah pada identifikasinya, namun dalam menghadapi permasalahan hama maka wawasan harus diperluas sampai menjangkau kemungkinan pengelolaan dan kendala yang muncul untuk jasad dan komoditas yang berbeda.

Pengelompokan komoditas biasanya didasarkan pada luas areal atau nilai produksi, tetapi seperti yang terlihat di atas pengelompokan juga dapat didasarkan pada strategi praktis menghadapi jasad pengganggunya. Memang harus diusahakan agar penentuan jasad pengganggu yang paling penting dilakukan secara obyektif (bukan karena lebih banyak dikenal, mudah dihadapi, terdapat cara pengelolaan yang mudah dll.). Pengelompokan seperti yang disampaikan dalam komoditas mungkin juga harus diperhatikan sungguh-sungguh. Hama yang selalu ada dalam jumlah besar dan merugikan memang penting, tetapi boleh jadi terdapat hama kadang-kadang yang tidak kalah penting artinya pada saat-saat tertentu. Arti penting jasad pengganggu dapat bervariasi mengikuti wilayah geografis/ekologis tertentu atau waktu/musim tertentu.

Salah satu hal yang juga perlu dipahami adalah bahwa meskipun pengelolaan hama dapat ditinjau sebagai suatu masalah tersendiri, namun semua konsep pengelolaan hama diselenggarakan dalam konteks sistem produksi. Dalam pertanian, sistem produksi tersebut berbasis pada suatu komoditas tunggal. Jasad pengganggu yang berada pada kondisi/sistem yang berbeda menghendaki cara penanganan yang berbeda pula.

Selanjutnya perlu diingat bahwa komoditas yang memiliki arti penting, pastilah telah memiliki catatan yang cukup lengkap mengenai berbagai jenis jasad pengganggu yang menyerangnya. Persoalan kita adalah bagaimana memperoleh informasi tersebut secara cepat dan benar, sehingga kita perlu mengetahui instansi/dinas/satgas atau laboratorium mana yang memiliki informasi jenis jasad yang kita hadapi pada tanaman/komoditas tertentu tersebut. Terdapat Balai Penelitian, Dinas Pertanian dan Perkebunan, Laboratorium Lapangan sampai ke Perguruan Tinggi yang menyediakan berbagai gambar, kunci identifikasi, contoh/sampel dan berbagai keterangan mengenai berbagai jenis jasad penganggu. Sumber informasi semacam ini harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Selain itu, untuk kepentingan pemahaman mata kuliah ini, praktikum telah diusahakan agar dapat memperkenalkan mahasiswa dengan situasi lapangan yang sesungguhnya. Hama-hama tanaman pangan/hortikultura, tanaman perkebunan, hama-hama urban dan pascapanen telah diberikan sebagai obyek kajian praktikum pada mata kuliah ini. Selanjutnya untuk lebih memahami gejala kerusakan, jenis OPT, bentuk, ukuran, dan penampilan fisik lainnya, mata kuliah Klinik Hama dan Penyakit akan sangat berguna untuk mengenal hal-hal tersebut lebih jauh dan lebih rinci.

Pemaparan yang lebih komprehensif jasad demi jasad akan diberikan melalui mata kuliah Hama dan Penyakit Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan dan Pascapanen.

Hama Tanaman Pangan. Dalam istilah bahasa Inggris, digunakan frasa "Agronomic Pests", yang cakupannya lebih luas dari pemenuhan kebutuhan pangan. Di Indonesia, tekanannya adalah pengadaan pangan, sehingga pengganggu proses inilah yang terpenting, jadi istilahnya "Hama Tanaman Pangan". Tanaman pangan yang dipentingkan adalah penghasil bahan makan pokok, yang di bumi ini hampir 80% dipenuhi oleh bijian serealia (anggota familia Poaceae atau Graminae : beras, gandum, jagung, shorgum, millet, jali dll. ), selain juga dipenuhi oleh umbian atau akar (Convolvulaceae : ubi jalar, Dioscoreaceae : ubi ungu, gadhung, gembolo, gembili; Cannaceae : talas, garut; Euphorbiaceae : ketela pohon; Solanaceae : kentang), tepung batang (Arecaceae atau Palmae : aren, sagu), dan buah (Moraceae : sukun, Musaceae : pisang). Terlihat bahwa kebanyakan tanaman pangan yang ada merupakan sumber karbohidrat, sehingga ketertarikan jasad pengganggu hama dapat diperhitungkan melalui sifat ini. Jenis tanaman pangan yang lain ada yang merupakan sumber protein dan minyak, misalnya kedelai dan kacang-kacangan. Pola jenis hamanya menjadi berbeda dengan kelompok pertama.

Namun salah satu ciri yang cukup jelas adalah bahwa kebanyakan tanaman pangan merupakan tanaman semusim (annual, biennial). Dengan demikian jenis tanaman ini kebanyakan akan dibongkar sesudah menghasilkan, sehingga perkembangan jasad herbivora yang mengikutinya akan menyesuaikan diri dengan kondisi ini. Jasad pengganggu yang menyerangnya umumnya berumur lebih pendek daripada daur tanamannya, atau kalaupun berumur lebih panjang, maka perlu tersedia pakan pengganti sehingga tidak kehabisan makanan. Pada kenyataannya, penyesuaian diri banyak jenis jasad pengganggu telah demikian baik sehingga terdapat hama yang menyerang pada masa yang amat pendek saja, misalnya walang sangit.

Perkembangan penyesuaian yang terjadi antara tanaman semusim dengan jasad pengganggunya telah berlangsung demikian lama, sehingga lingkungan pertanaman merupakan suatu ekosistem tersendiri dengan ciri tertentu. Julukan "agroekosistem" mengacu kepada proses yang telah berjalan lama, yang menyatukan sitindak antara hama--tanaman--jasad lain dan komponen abiotik yang ada di dalamnya. Komponen abiotik ini sedikit banyak juga berada di bawah pengaruh manusia : tanah yang dipetak-petak dan dikendalikan kesuburannya, air yang diatur alirannya. Sedang komponen biotik yang diatur dengan cermat umumnya hanya tanamannya, sementara komponen biotik lainnya lalu menyesuaikan diri dengan irama tersebut. Pendekatan pengaturan untuk komponen biotik yang lain ini acapkali jauh dari cermat : diusir, dibunuh, dianggap komponen yang "tak berperan", sehingga perlakuan terhadap mereka lebih menuju upaya pemusnahan untuk mengunggulkan satu komponen biotik saja, yaitu tanaman.

Upaya pendekatan pengaturan yang semacam ini menyebabkan kondisi "berat sebelah" dalam agroekosistem. Oleh karena itu pendekatan yang seharusnya dilakukan adalah mempertimbangkan sistem pertanaman secara komprehensif, secara holistik, atau menerapkan suatu sistem Pengelolaan Hama Terpadu. Di negeri kita, tanaman pangan yang memiliki posisi politis yang strategis tidak dapat hanya dikelola dengan pendekatan teknis peningkatan produksi saja,melainkan juga secara lengkap mempertimbangkan faktor-faktor lain yang ikut menentukan keberhasilan pertanaman baik secara teknis maupun non-teknis. Ini dituangkan dalam bentuk prinsip-prinsip PHT, pemantauan terhadap berbagai kondisi ekosistem, baik pertanaman (ekologi, biologi) maupun sosial-ekonomi.

Jadi pertimbangan komoditas pangan sebagai dasar strategi pengelolaan hamanya, sebagaimana halnya strategi untuk komoditas-komoditas lainnya, mengacu pada :
Sifat komoditasnya, baik sifat agronomi, ekologi maupun ekonominya
Kondisi lingkungan pertanamannya
Pemahaman dan ketersediaan teknologi pengelolaannya.

Hama Tanaman Perkebunan. Pada komoditas perkebunan, nilai ekonomi merupakan pertimbangan yang amat penting karena memang komoditas perkebunan umumnya ditanam untuk memperoleh keuntungan ekonomi. Sifat berikutnya yang penting adalah jenis tanaman perkebunan yang kebanyakan perennial, dan diusahakan pada hamparan yang amat luas secara monokultur dengan bentuk agroekosistem yang memiliki keanekaragaman agak lebih banyak daripada tanaman pangan. Sifat ketiga, berhubungan dengan usaha taninya. Banyak perkebunan yang lebih merupakan usaha besar dibanding perkebunan rakyat, sehingga model pengelolaannya memang mengutamakan efisiensi ekonomi. Tabel berikut menunjukkan kondisi pada beberapa komoditas perkebunan :

Tabel : Rata-rata Luas dan Produksi Beberapa Komoditas Perkebunan

di Beberapa Provinsi Terpilih, 1993 - 1996

__________________________________________________________________



Luas(Ha) Produksi(ton) Produktivitas (t/Ha)



[1][1]Kakao, Sum Ut[1][1]

Perkebunan Rakyat 20955 8219 0,422

Perkebunan Besar 30884 21406 0,693 (164%)

[1][1]Teh, Jawa Barat [1][1]

Perkebunan Rakyat 54958,35 23479,34 0,711

Perkebunan Besar 50630,91 87487,97 1,921 (270%)

[1][1]Kopi, Jawa Timur[1][1]

Perkebunan Rakyat 44255,33 15200,67 0,453

[1][1]Kapas, Sul Sel[1][1]

Perkebunan Rakyat 25429,00 5075,00 0,419

[1][1]Lada, Lampung[1][1]

Perkebunan Rakyat 45118,20 23929,80 0,530

Dari : Berbagai sumber

Tabel di atas menunjukkan bahwa meski kebanyakan luas areal perkebunan rakyat cukup besar, namun produktivitasnya masih rendah. Tetapi lebih dari itu, produksi perkebunan besar yang lebih tinggi daripada perkebunan rakyat itu pun ternyata masih ada di bawah potensi produksi yang sesungguhnya, dan di bawah rata-rata produksi global. Ini berarti gangguan produksi masih amat berperan, dan salah satunya disebabkan oleh masalah hama.

Penanganan masalah hama pada bidang perkebunan memang masih belum mendasarkan diri pada konsep PHT. Pada saat ini (1997-1999) sedang dilakukan studi dasar ekonomi sosial dan persiapan sosial penerapan PHT pada lima komoditas perkebunan, yang diharapkan nantinya akan segera diikuti dengan pelatihan-pelatihan petani menggunakan mekanisme SLPHT. Penanganan semacam ini juga masih diarahkan pada perkebunan rakyat, karena jenis perkebunan inilah yang menghendaki bimbingan secara intensif dari para ahli dan petugas yang berwenang. Perkebunan besar diharapkan memahami keuntungan penerapan PHT bukan dari bimbingan yang umumnya harus sedikit paternalistik, melainkan dari kesadaran pengelola perkebunannya, dengan pendekatan manajemen yang benar, didasari oleh pengetahuan teknis yang cukup, baik tentang hal perlindungan tanaman maupun hal-hal lain yang berkaitan erat dengan masalah penyelenggaraan produksi (ekologi, budidaya, pengolahan, pemasaran dll).

Sifat komoditas perkebunan yang pada umumnya merupakan tanaman tahunan menyebabkan watak budidayanya menjadi berbeda, demikian juga lingkungan dan ekosistemnya. Tanaman tahunan memungkinkan pemapanan musuh alami karena keberadaannya yang lebih lama/panjang dibandingkan tanaman semusim. Oleh karena itu pendekatan pengendalian hayati mungkin akan lebih memadai bagi suatu usaha perkebunan daripada semata-mata menggantungkan diri pada penggunaan bahan kimia pestisida. Dengan demikian dasar-dasar pengetahuan biologi tanaman, hama, dan musuh alaminya harus dipahami benar untuk dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya. Permasalahannya, acapkali justru perkebunan besar melakukan pendekatan paling mudah dalam melakukan perlindungan tanaman, yaitu penyemprotan dan aplikasi pestisida secara rutin.

Hama Tanaman Hortikultura. Tanaman hortikultura meliputi sayuran, buahan dan tanaman hias. Seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat, maka jenis tanaman hortikultura yang ketiga pun saat ini telah semakin meningkat peminatnya. Dari ketiga jenis tersebut, maka tanaman buahan dan sayuran merupakan jenis yang mudah rusak ("perishable") dan harus dikonsumsi segera. Kenyataan ini menyebabkan pengelolaan hama tidak hanya penting pada saat di pertanaman saja, melainkan juga ketika produk telah dipanen dan menunggu konsumen. Penyelamatan pada produk pascapanen sendiri berkeuntungan ganda : menyelamatkannya dari serangan jasad pengganggu, dan meningkatkan umur tunggu ("shelf-life") produk. Usaha ini dikenal dengan "commodity treatment", penanganan komoditas. Ini berlaku untuk produk hortikultura tanpa kecuali, juga pada tanaman buahan yang berupa pohon/tanaman keras.

Usaha pengelolaan/pengendalian jasad pengganggu pada saat usaha tani hortikultura berlangsung di lapangan merupakan bentuk penerapan program PHT seperti pada tanaman pangan dan palawija. SLPHT yang pernah diterapkan antara lain adalah pada bawang merah, kubis dan kentang. Sebaliknya, usaha penanganan komoditas masih belum banyak diterapkan, bahkan belum banyak yang tahu arti penting perlakuan semacam ini. Usaha perlakuan komoditas semula juga mengandalkan perlakuan khemis dengan berbagai bahan fumigan, seperti misalnya CH3Br, CH3I, DDVP dan lain-lain. Saat ini karena pemahaman akan bahaya bahan residu dan sejenisnya, digunakan cara-cara mekanis (pembungkusan dengan kertas kue, seperti misalnya pada pir/persik), cara fisis (dengan pelapisan lilin, pengaliran udara atau air panas, proses beku-kering atau "freeze-drying"), atau pun melalui cara pengemasan/pengolahan produk langsung menjadi siapan/preparasi yang lebih awet/tahan lama. Penggunaan bahan pengawet yang lebih alami seperti misalnya produk nabati juga dapat dipergunakan dalam usaha perlakuan komoditas.

Penanganan produk hortikultura bungaan/tanaman hias mungkin bisa menjadi agak berbeda dengan tanaman hortikultura yang lain karena sifat produknya yang tidak dikonsumsi langsung sebagai bahan pangan. Oleh karenanya penggunaan bahan kimia buatan agak sedikit lebih "longgar" dibanding jika yang diperlakukan adalah produk hortikultura sayuran dan buahan. Yang perlu dijaga pada akhirnya bukan semata-mata kehilangan kuantitas, tetapi lebih lagi adalah kehilangan kualitas, atau yang sering disebut sebagai "aesthetical damage". Sebaliknya memang terdapat gangguan jasad yang

TEKNOLOGI BUDIDAYA ORGANIK

TEKNOLOGI BUDIDAYA ORGANIK

By zuldesains

Memasuki abad ke-21 banyak keluhan-keluhan masyarakat utamanya masyarakat menengah ke atas tentang berbagai penyakit seperti stroke, penyempitan pembuluh darah, pengapuran, dan lain-lain, yang disebabkan pola makan. Banyak sekali bahan makanan yang diolah dengan berbagai tambahan bahan kimia. Disamping itu budaya petani yang menggunakan pestisida kimia dengan frekuensi dan dosis berlebih akan menghasilkan pangan yang meracuni tubuh konsumen. Adanya logam-logam berat yang terkandung di dalam pestisida kimia akan masuk ke dalam aliran darah. Bahkan makan sayur yang dulu selalu dianggap menyehatkan, kini juga harus diwaspadai karena sayuran banyak disemprot pestisida kimia berlebih.Pada saat ini satu dari empat orang Amerika mengkonsumsi produk organik. Di negara itu, laju pertumbuhan produk organik sangat luar biasa, yakni lebih dari 20 % setiap tahunnya dalam sepuluh tahun terakhir ini, dan hal tersebut membuat pertanian organik tumbuh sangat cepat dalam mengisi sektor ekonomi (Wood, Chaves dan Comis, 2002). Dalam era globalisasi, pasar sayuran organik sangat terbuka dan saat ini Australia telah mengambil peluang ini dengan mengekspor sayuran organik ke pasar Amerika, beberapa negara Eropa seperti Inggris, Jerman dan Perancis, Jepang, juga ke beberapa negara Asia Tenggara seperti Malaysia dan Singpura (McCoy, 2001). Keadaan ini juga dicermti negara Asia seperti Thailand yang sejak tahun 1995 telah mengeluarkan standarisasi dan sertifikasi tentang produk organik (ACT, 2001).

Peluang Indonesia menjadi produsen pangan organik dunia, cukup besar. Disamping memiliki 20% lahan pertanian tropic, plasma nutfah yang sangat beragam, ketersediaan bahan organik juga cukup banyak. Namun menurut IFOAM (International Federation of Organic Agricultural Movement) Indonesia baru memanfaatkan 40.000 ha (0.09%) lahan pertaniannya untuk pertanian organik, sehingga masih diperlukan berbagai program yang saling sinergis untuk menghantarkan Indonesia sebagai salah satu negara produsen organik terkemuka

Indonesia yang beriklim tropis, merupakan modal SDA yang luar biasa dimana aneka sayuran, buah dan tanaman pangan hingga aneka bunga dapat dibudidayakan sepanjang tahun. Survey BPS (2000) menunjukkan produksi sayuran di Indonesia, diantaranya bawang merah, kubis, sawi, wortel dan kentang berturut-turut 772.818, 1.336.410, 484.615, 326.693 dan 977.349 ton pada total area seluas 291.192 Ha. Selanjutnya survey yang dilakukan oleh Direktorat Tanaman Sayuran, Hias dan Aneka Tanaman menunjukkan bahwa kebutuhan berbagai sayuran di 8 pasar swalayan di Jakarta sekitar 766 ton per bulan, dimana sekitar 5 % adalah sayuran impor (Rizky, 2002).

Sistem Pertanian Organik

Sejak tahun 1990, isu pertanian organik mulai berhembus keras di dunia. Sejak saat itu mulai bermunculan berbagai organisasi dan perusahaan yang memproduksi produk organik. Di Indonesia dideklarasikan Masyarakat Pertanian Organik Indonesia (MAPORINA) pada tgl 1 Februari 2000 di Malang. Di Indonesia telah beredar produk pertanian organik dari produksi lokal seperti beras organik, kopi organik, teh organik dan beberapa produk lainnya. Demikian juga ada produk sayuran bebas pestisida seperti yang diproduksi oleh Kebun Percobaan Cangar FP Unibraw Malang. Walaupun demikian, produk organik yang beredar di pasar Indonesia sangat terbatas baik jumlah maupun ragamnya.

Pertanian organik dapat didefinisikan sebagai suatu sistem produksi pertanian yang menghindarkan atau mengesampingkan penggunaan senyawa sintetik baik untuk pupuk, zat tumbuh, maupun pestisida. Dilarangnya penggunaan bahan kimia sintetik dalam pertanian organik merupakan salah satu kendala yang cukup berat bagi petani, selain mengubah budaya yang sudah berkembang 35 tahun terakhir ini pertanian organik membuat produksi menurun jika perlakuannya kurang tepat.

Di sisi lain, petani telah terbiasa mengandalkan pupuk anorganik (Urea, TSP, KCl dll) dan pestisida sintetik sebagai budaya bertani sejak 35 tahun terakhir ini. Apalagi penggunaan pestisida, fungisida pada petani sudah merupakan hal yang sangat akrab dengan petani kita. Itulah yang digunakan untuk mengendalikan serangan sekitar 10.000 spesies serangga yang berpotensi sebagai hama tanaman dan sekitar 14.000 spesies jamur yang berpotensi sebagai penyebab penyakit dari berbagai tanaman budidaya.

Alasan petani memilih pestisida sintetik untuk mengendaliakan OPT di lahannya a.l. karena aplikasinya mudah, efektif dalam mengendalikan OPT, dan banyak tersedia di pasar. Bahkan selama enam dekade ini, pestisida telah dianggap sebagai penyelamat produksi tanaman selain kemajuan dalam bidang pemuliaan tanaman. Pestisida yang beredar di pasaran Indonesia umumnya adalah pestisida sintetik.

Sistem Pertanian Organik adalah sistem produksi holistic dan terpadu, mengoptimalkan kesehatan dan produktivitas agro ekosistem secara alami serta mampu menghasilkan pangan dan serat yang cukup, berkualitas dan berkelanjutan (Deptan 2002).

Sebenarnya, petani kita di masa lampau sudah menerapkan sistem pertanian organik dengan cara melakukan daur ulang limbah organik sisa hasil panen sebagai pupuk. Namun dengan diterapkannya kebijakan sistem pertanian kimiawa yang berkembang pesat sejak dicanangkannya kebijakan sistem pertanian kimiawi yang berkembang yang berkembang pesat sejak dicanangkannya Gerakan Revolusi Hijau pada tahu 1970-an, yang lebih mengutamakan penggunaan pestisida dan pupuk kimiawi, walaupun untuk sementara waktu dapat meningkatkan produksi pertanian, pada kenyataannya dalam jangka panjang menyebabkan kerusakan pada sifat fisik, kimia, dan biologi tanah, yang akhirnya bermuara kepada semakin luasnya lahan kritis dan marginal di Indonesia.

Sistem pertanian organik sebenarnya sudah sejak lama diterap kan di beberapa negara seperti Jepang, Taiwan, Korea Selatan dan Amerika Serikat (Koshino, 1993). Pengembangan pertanian organik di beberapa negara tersebut mengalami kemajuan yang pesat disebabkan oleh kenyataan bahwa hasil pertanian terutama sayur dan buah segar yang ditanam dengan pertanian sistem organik (organic farming system) mempunyai rasa, warna, aroma dan tekstur yang lebih baik daripada yang menggunakan pertanian anorganik (Park 1993 dalam Prihandarini, 1997).

Selama ini limbah organik yang berupa sisa tanaman (jerami, tebon, dan sisa hasil panen lainnya) tidak dikembalikan lagi ke lahan tetapi dianjurkan untuk dibakar (agar praktis) sehingga terjadi pemangkasan siklus hara dalam ekosistem pertanian. Bahan sisa hasil panen ataupun limbah organik lainnya harus dimanfaatkan atau dikembalikan lagi ke lahan pertanian agar lahan pertanian kita dapat lestari berproduksi sehingga sistem pertanian berkelanjutan dapat terwujud.

Teknik Budidaya Organik

Teknik Budidaya merupakan bagian dari kegiatan agribisnis harus berorientasi pada permintaan pasar. Paradigma agribisnis : bukan Bagaimana memasarkan produk yang dihasilkan, tapi Bagaimana menghasilkan produk yang dapat dipasarkan. Terkait dengan itu, teknik budidaya harus mempunyai daya saing dan teknologi yang unggul. Usaha budidaya organik tidak bisa dikelola asal-asalan, tetapi harus secara profesional. Ini berarti pengelola usaha ini harus mengenal betul apa yang dikerjakannya, mampu membaca situasi dan kondisi serta inovatif dan kreatif. Berkaitan dengan pasar (market), tentunya usaha agribisnis harus dilakukan dengan perencanaan yang baik dan berlanjut, agar produk yang telah dikenal pasar dapat menguasai dan mengatur pedagang perantara bahkan konsumen dan bukan sebaliknya.

Teknik budidaya organik merupakan teknik budidaya yang aman, lestari dan mensejahterakan petani dan konsumen. Berbagai sayuran khususnya untuk dataran tinggi, yang sudah biasa dibudidayakan dengan sistem pertanian organik, diantaranya : Kubis (Brassica oleraceae var. capitata L.), Brokoli (Brassica oleraceae var. italica Plenk.), Bunga kol (Brassica oleraceae var. brotritys.), Andewi (Chicorium endive), Lettuce (Lactuca sativa), Kentang (Solanum tuberosum L.), Wortel. (Daucus carota).

Sayuran ini, mengandung vitamin dan serat yang cukup tinggi disamping juga mengandung antioksidan yang dipercaya dapat menghambat sel kanker. Semua jenis tanaman ini ditanam secara terus menerus setiap minggu, namun ada juga beberapa jenis tanaman seperti kacang merah (Vigna sp.), kacang babi (Ficia faba), Sawi (Brassica sp) yang ditanam pada saat tertentu saja sekaligus dimanfaatkan sebagai pupuk hijau dan pengalih hama. Ada juga tanaman lain yang ditanam untuk tanaman reppelent (penolak) karena aromanya misalnya Adas.

Dalam upaya penyediaan media tanam yang subur, penggunaan pupuk kimia juga dikurangi secara perlahan. Untuk memperkaya hara tanah, setiap penanaman brokoli selalu diberi pupuk kandang ayam dengan dosis 20 ton/ha. Lahan bekas tanaman brokoli selanjutmya dirotasi dengan tanaman wortel yang dalam penanamannya tidak perlu lagi diberi pupuk kandang. Nantinya setelah tanaman wortel dipanen atau 100 hari kemudian, lahan tersebut dapat ditanami brokoli kembali.

Pupuk Organik

Peningkatan mutu intensifikasi selama tiga dasawarsa terakhir, telah melahirkan petani yang mempunyai ketergantungan pada pupuk yang menyebabkan terjadinya kejenuhan produksi pada daerah-daerah intensifikasi padi. Keadaan ini selain menimbulkan pemborosan juga menimbulkan berbagai dampak negatif khususnya pencemaran lingkungan. Oleh karena itu perlu upaya perbaikan agar penggunaan pupuk dapat dilakukan seefisien mungkin dan ramah lingkungan.

Adanya kejenuhan produksi akibat penggunaan pupuk yang melebihi dosis, selain menimbulkan pemborosan juga akan menimbulkan berbagai dampak negatif terutama pencemaran air tanah dan lingkungan, khususnya yang menyangkut unsur pupuk yang mudah larut seperti nitrogen (N) dan kalium (K).

Selain itu, pemberian nitrogen berlebih disamping menurunkan efisiensi pupuk lainnya, juga dapat memberikan dampak negatif, diantaranya meningkatkan gangguan hama dan penyakit akibat nutrisi yang tidak seimbang. Oleh karena itu, perlu upaya perbaikan guna mengatasi masalah tersebut, sehingga kaidah penggunaan sumber daya secara efisien dan aman lingkungan dapat diterapkan.

Efisiensi penggunaan pupuk saat ini sudah menjadi suatu keharusan, karena industri pupuk kimia yang berjumlah enam buah telah beroperasi pada kapasitas penuh, sedangkan rencana perluasan sejak tahun 1994 hingga saat ini belum terlaksana. Di sisi lain, permintaan pupuk kimia dalam negeri dari tahun ke tahun terus meningkat, diperkirakan beberapa tahun mendatang Indonesia terpaksa makin banyak mengimpor pupuk kimia. Upaya peningkatan efisiensi telah mendapat dukungan kuat dari kelompok peneliti bioteknologi berkat keberhasilannya menemukan pupuk organik yang dapat meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk kimia. Pengembangan industri pupuk organik mempunyai prospek yang cerah dan menawarkan beberapa keuntungan, baik bagi produsen, konsumen, maupun bagi perekonomian nasional.

Upaya pembangunan pertanian yang terencana dan terarah yang dimulai sejak Pelita pertama tahun 1969, telah berhasil mengeluarkan Indonesia dari pengimpor beras terbesar dunia menjadi negara yang mampu berswasembada beras pada tahun 1984. Namun di balik keberhasilan tersebut, akhir-akhir ini muncul gejala yang mengisyaratkan ketidakefisienan dalam penggunaan sumber daya pupuk. Keadaan ini sangat memberatkan petani, lebih-lebih dengan adanya kebijakan penghapusan subsidi pupuk dan penyesuaian harga jual gabah yang tidak berimbang.

Beberapa penelitian yang menyangkut efisiensi penggunaan pupuk, khususnya yang dilakukan oleh kelompok peneliti bioteknologi pada beberapa tahun terakhir, sangat mendukung upaya penghematan penggunaan pupuk kimia. Upaya tersebut dilakukan melalui pendekatan peningkatan daya dukung tanah dan/atau peningkatan efisiensi produk pupuk dengan menggunakan mikroorganisme. Penggunaan mikroorganisme pada pembuatan pupuk organik, selain meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk, juga akan mengurangi dampak pencemaran air tanah dan lingkungan yang timbul akibat pemakaian pupuk kimia berlebihan.

Industri pupuk organik saat ini mulai tumbuh dan berkembang, beberapa perusahaan yang bergerak dibidang pupuk organik cukup banyak bermunculan, antara lain seperti ; PT Trimitra Buanawahana Perkasa yang bekerjasama dengan PT Trihantoro Utama bersama Pemda DKI Jakarta dan Pemkot Bekasi yang saat ini akan mengolah sampah kota DKI Jakarta, PT Multi Kapital Sejati Mandiri yang bekerjasama dengan Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) dan Pemda Kabupaten Brebes Jawa Tengah yang mengolah sampah kota dan limbah perdesaan. PT PUSRI selain memproduksi pupuk kimia, saat ini bersama PT Trihantoro Utama dan Dinas Kebersihan Pemda DKI Jakarta juga memproduksi pupuk organik. Sampah dan limbah organik diolah dengan menggunakan teknologi modern dengan penambahan nutrien tertentu sehingga menghasilkan pupuk organik yang berkualitas.

Penggunaan pupuk organik bermanfaat untuk meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk kimia, sehingga dosis pupuk dan dampak pencemaran lingkungan akibat penggunaan pupuk kimia dapat secara nyata dikurangi. Kemampuan pupuk organik untuk menurunkan dosis penggunaan pupuk konvensional sekaligus mengurangi biaya pemupukan telah dibuktikan oleh beberapa hasil penelitian, baik untuk tanaman pangan (kedelai, padi, jagung, dan kentang) maupun tanaman perkebunan (kelapa sawit, karet, kakao, teh, dan tebu) yang diketahui selama ini sebagai pengguna utama pupuk konvensional (pupuk kimia). Lebih lanjut, kemampuannya untuk mengurangi dampak pencemaran lingkungan terbukti sejalan dengan kemampuannya menurunkan dosis penggunaan pupuk kimia.

Beberapa hasil penelitian di daerah Pati, Lampung, Magetan, Banyumas, organik terbukti dapat menekan kebutuhan pupuk urea hingga 100 persen, TSP/SP36 hingga 50 persen, kapur pertanian hingga 50 persen. Biaya yang dihemat mencapai Rp. 50.000/ha, sedangkan produksi kedelai meningkat antara 2,45 hingga 57,48 persen. Keuntungan yang diperoleh petani kedelai naik rata-rata p. 292.000/ha, terdiri dari penghematan biaya pemupukan sebesar Rp. 50.000/ha, dan kenaikan produksi senilai Rp. 242.000/ha (Saraswati et al., 1998).

Aplikasi pupuk organik yang dikombinasikan dengan separuh takaran dosis standar pupuk kimia (anorganik) dapat menghemat biaya pemupukan. Pengujian lapang terhadap tanaman pangan (kentang, jagung, dan padi) juga menunjukkan hasil yang menggembirakan, karena selain dapat menghemat biaya pupuk, juga dapat meningkatkan produksi khususnya untuk dosis 75 persen pupuk kimia (anorganik) ditambah 25 persen pupuk organik (Goenadi et. al., 1998). Pada kombinasi 75 persen pupuk kimia (anorganik) ditambah 25 persen pupuk organik tersebut biaya pemupukan dapat dihemat sebesar 20,73 persen untuk tanaman kentang ; 23,01 persen untuk jagung ; dan 17,56 persen untuk padi. Produksi meningkat masing-masing 6,94 persen untuk kentang, 10,98 persen untuk jagung, dan 25,10 persen untuk padi. Penggunaan pupuk organik hingga 25 persen akan mengurangi biaya produksi sebesar 17 hingga 25 persen dari total biaya produksi.

Dengan adanya diversifikasi produk dari pupuk organik ini maka prospek pengembangan industri pupuk organik ke depan akan semakin menguntungkan sehingga lahan pekerjaan baru akan semakin luas.

Pengendalian Hama & Penyakit yang Organik

Pertanian organik dapat didefinisikan sebagai suatu sistem produksi pertanian yang menghindarkan atau mengesampingkan penggunaan senyawa sintetik baik untuk pupuk, zat tumbuh, maupun pestisida. Dilarangnya penggunaan bahan kimia sintetik dalam pertanian organik merupakan salah satu penyebab rendahnya produksi.

Di sisi lain, petani telah terbiasa mengandalkan pestisida sintetik sebagai satu-satunya cara pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) khususnya hama dan penyakit tumbuhan. Seperti diketahui, terdapat sekitar 10.000 spesies serangga yang berpotensi sebagai hama tanaman dan sekitar 14.000 spesies jamur yang berpotensi sebagai penyebab penyakit dari berbagai tanaman budidaya. Alasan petani memilih pestisida sintetik untuk mengendaliakan OPT di lahannya a.l. karena aplikasinya mudah, efektif dalam mengendalikan OPT, dan banyak tersedia di pasar.

Cara-cara lain dalam pengendalian OPT selain pestisida sintetik, pestisida biologi dan pestisida botani antara lain yaitu cara pengendalian menggunakan musuh alami, penggunaan varietas resisten, cara fisik dan mekanis, dan cara kultur teknis.

Pestisida dapat berasal dari bahan alami dan dapat dari bahan buatan. Di samping itu, pestisida dapat merupakan bahan organik maupun anorganik.

Secara umum disebutkan bahwa pertanian organik adalah suatu sistem produksi pertanian yang menghindarkan atau menolak penggunaan pupuk sintetis pestisida sintetis, dan senyawa tumbuh sintetis.

OPM versus IPM

Ada istilah yang juga penting untuk diketahui yaitu Organik Pest Management (OPM), yaitu pengelolaan hama dan penyakit menggunakan cara-cara organik. Selama ini telah lama dikenal istilah Pengendalian Hama Terpadu atau Integrated Pest Management (IPM). Persamaan diantara keduanya adalah bagaimana menurunkan populasi hama dan patogen pada tingkat yang tidak merugikan dengan memperhatikan masalah lingkungan dan keuntungan ekonomi bagi petani. Walaupun demikian, ada perbedaan-nya yaitu bahwa pestisida sintetik masih dimungkinkan untuk digunakan dalam PHT, walaupun penggunaannya menjadi ‘bila perlu’.

‘Bila perlu’ berarti bahwa aplikasi pestisida boleh dilakukan bila cara-cara pengendalian lainnya sudah tidak dapat mengatasi OPT padahal OPT tersebut diputuskan harus dikendalikan karena telah sampai pada ambang merugikan.

Bila dalam PHT masih digunakan pestisida sintetik, maka PHT tidak dapat dimasukkan sebagai bagian dalam pertanian organik. Akan tetapi, bila pestisida sintetik dapat diganti dengan pestisida alami, yang kemudian disebut sebagai pestisida organik, atau cara pengendalian lain non-pestisida maka PHT dapat diterapkan dalam pertanian organik.

Cara-Cara Pengendalian Non-Pestisida yang Aman Lingkungan

Banyak cara pengendalian OPT selain penggunaan pestisida yang dapat digunakan dalam pertanian organik. Salah satunya yaitu dengan menghindarkan adanya OPT saat tanaman sedang dalam masa rentan. Cara menghindari OPT dapat dilakukan dengan mengatur waktu tanam, pergiliran tanaman, mengatur jarak tanam ataupun dengan cara menanam tanaman secara intercropping.

Selain itu, penggunaan varietas tahan merupakan suatu pilihan yang sangat praktis dan ekonomis dalam mengendalikan OPT. Walaupun demikian, penggunaan varietas yang sama dalam waktu yang berulang-ulang dengan cara penanaman yang monokultur dalam areal yang relatif luas akan mendorong terjadinya ras atau biotipe baru dari OPT tersebut.

Cara fisik dan mekanis dalam pengendalian OPT dapat dilakukan dengan berbagai upaya, antara lain dengan sanitasi atau membersihkan lahan dari sisa-sisa tanaman sakit atau hama. Selain itu, hama dapat diambil atau dikumpulkan dengan tangan. Hama juga dapat diperangkap dengan senyawa kimia yang disebut sebagai feromon, atau menggunakan lampu pada malam hari. Hama juga dapat diusir atau diperangkap dengan bau-bauan lain seperti bau bangkai, bau karet yang dibakar dan sebagai-nya. Penggunaan mulsa plastik dan penjemuran tanah setelah diolah dapat menurunkan serangan penyakit tular tanah. Hama dapat pula dikendalikan dengan cara hanya menyemprotkan air dengan tekanan tertentu atau dikumpulkan dengan menggunakan penyedot mekanis.

Pengendalian dengan cara biologi merupakan harapan besar untuk pengendalian OPT dalam pertanian organik. Cara ini antara lain menyang-kut penggunaan tanaman perangkap, penggunaan tanaman penolak (tanaman yang tidak disukai), penggunaan mulsa alami, penggunaan kompos yang memungkinkan berkembangnya musuh alami dalam tanah, dan penggunaan mikroba sebagai agen pengendali.

Rabu, 04 Maret 2009

Selasa, 15 April 2008 01:15:01 Klik : 35 Kirim Berita Ini! Print Berita Ini! Langkah Peningkatan Mutu dan Produksi Padi JATIAGUNG - Pemerintah

Selasa, 15 April 2008 01:15:01 Klik : 35 Kirim Berita Ini! Print Berita Ini!

Langkah Peningkatan Mutu dan Produksi Padi
JATIAGUNG - Pemerintah Kecamatan Jatiagung, Lampung Selatan bekerjasama dengan Cabang Dinas (Cabdin) Tanaman Pangan dan Holtikultura (TPH) Kecamatan Jatiagung, melakukan terobosan sebagai upaya untuk mendongkrak hasil produksi pangan, khususnya produksi padi dan jagung di wilayah tersebut.

Dengan dukungan dari PT. Tritama Wirakarsa sebagai distributor produk stimulan dan booster Nordox 56 WP dan produk bio aktivator organik padi Siapton, memprakarsai lomba intensifikasi lahan yang diikuti oleh seluruh kelompok tani yang ada di wilayah kecamatan tersebut.

Pencanangan lomba tersebut dilaksanakan bersamaan dengan panen raya yang di pusatkan di sawah milik Wariman, warga Dusun III, Desa Fajarbaru, Kecamatan Jatiagung, Lampung Selatan (Lamsel).

Dalam sambutannya, Camat Jatiagung Abdullah Sani, S.Sos., mengatakan bahwa pihaknya merasa terpanggil untuk melakukan langkah-langkah nyata, setelah melihat kondisi pertanian yang ada di kecamatan tersebut.

Saat ini produksi pertanian di Kecamatan Jatiagung hanya cukup untuk kebutuhan selama 6 bulan saja, kata Abdullah di hadapan Ketua TP PKK Kecamatan Jatiagung Ny. Mainar Sani, Kepala Cabang Dinas (kacabdin) Tanaman Pangan Dan Holtikultura kecamatan setempat Robinsis dan perwakilan Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Kabupaten Lamsel, pihak sponsor dari PT Tritama Wirakarsa yang diwakili oleh Edi dan perangkat Desa Fajarbaru, serta anggota dari kelompok tani (poktan) Serba Guna.

Abdullah menambahkan, peningkatan produksi pertanian ini hanya dapat dilakukan dengan langkah intesifikasi lahan melalui penggunaan bibit unggul, pola tanam dan penggunaan pupuk serta obat-obatan.

Untuk diketahui, di Kecamatan Jatiagung langkah ekstensifikasi atau perluasan lahan tidak mungkin lagi dapat dilakukan. Pasalnya sebagai wilayah kecamatan yang berbatasan langsung dengan ibu kota provinsi, wilayah Jatiagung mulai menjadi pilihan para investor dalam melakukan kegiatannya.

Sebagai konsekuensinya, lahan pertanian di kecamatan tersebut kian hari kian berkurang. Masalah ini bertambah parah dengan kondisi lahan pertanian yang sebagian besar masih merupakan sawah tadah hujan akibat belum adanya saluran irigasi di wilayah tersebut.

Guna meningatkan motivasi dan kekompakan para petani yang tergabung dalam poktan, pemerintah kecamatan bekerjasama dengan Cabdin Tanaman Pangan dan Holtikultura mengadakan lomba intensifikasi lahan, tambah orang nomor satu di Kecamatan Jatiagung ini.

Ke depan, kegiatan lomba seperti ini akan dijadikan kegiatan rutin, bahkan telah ada wacana lomba tersebut akan memperebutkan piala bergilir yang disediakan oleh Camat Jatiagung, ditambah dengan piala tetap yang disediakan oleh pihak sponsor.

Hasil panen raya menunjukan peningkatan yang cukup signifikan setelah menggunakan produk-produk dari pihak sponsor. Untuk setiap hektare lahan, peningkatan produksi mencapai 1/2 ton padi.

Hasil ini cukup memberi harapan pada peningkatan kesejahteraan para petani di wilayah ini, pungkasnya. (T. Wijaya)


<< Kembali

SOLUSI TENTANG PENYALURAN PUPUK BERSUBSIDI

SOLUSI TENTANG PENYALURAN PUPUK BERSUBSIDI

masalah yang sering terjadi adalah ketidaktersediaan atau pendistribusian pupuk ke petani pada saat yang tepat dan harga yang terjangkau. Penyebab terjadinya ketidaktersediaan pupuk selama ini adalah belum ada suatu distribusi pupuk yang efisien di dalam negeri. Selain itu, adanya perbedaan harga pupuk di pasar internasional dan di dalam negeri. Perbedaan harga itu membuat pupuk sering diekspor, baik secara legal maupun ilegal

Awal juni ini pemerintah memberlakukan sistem baru dalam pendisribusian pupuk bersubsidi sistem baru itu menggunakan kartu pintar.kartu pintar atau yang lebih di kenal smart card merupakan solusi agar pupuk dapat di distribusikan secara merata kepada petani.Pemerintah telah melakukan upaya-upaya dalam mengatasi pendistribusian pupuk ,pemerintah bekerja sama dengan departemen pertanian dan pihak produsen pupuk dalam hal mendistribusikan pupuk.beberapa kebijakan pendisteribusian pupuk yang pernah di terapkan menggunakan sistem terbuka dan sistem tertutup.Dalam sistem tertutup peran departemen pertanian dan para penyuluh pertanian sangat berperan dalam hal menyusun rencana kebutuhan kelompok petani atau yang lebih di kenal dengan RDKK ,dalam sistem ini petani di tuntut aktif dalam membantu menyusun kebutuhan pupuk ,petani yang ingin memiliki atau menggunakan pupuk harus di kordinir oleh kelompok tani atau gabungan kelompok tani (Gapoktan),melalui gapoktan kebutuhan pupuk di kordinir bersama para penyuluh pertanian lapangan (PPL) dan di setutjui oleh Kepala cabang Dinas Pertanian (KCD) setempat dan kemudian di ajukan ke pihak produsen pupuk yang ada perwakilan daerah setempat.Metode ini sempat berjalan dalam satu musim tetapi di kemudian terdapat kendala dan hambatan baik dari segi pendataan maupun pendistribusian .Kendala nya meliputi pupuk yang di gunakan adalah jenis urea (produk PT PUSRI),SP 36,NPK PHONSKA dan ZA(produk PT PETRO ) tidak dapat rutin di gunakan oleh petani,petani hanya menggunakan sekali saja sedangkan produsen di tuntut untuk memproduksi terus menerus.tidak hanya itu banyak kelompok tani dan Gapoktan yang tidak mampu untuk menebus pupuk tersebut,ada mengira pupuk tersebut bantuan dari pemerintah.menyikapi kendala-kendala di atas pemerintah menerapkan sistem terbuka dengan melibatkan para pengusaha-pengusaha/swasta dengan membagi sistem rayonisasi /wilayah dengan melibatkan perusahaan swasta yang bertindak sebagai distributor dan para pengecer .dalam sistem ini cukup berjalan baik tetapi dalam sistem ini rentan penyelewengan pupuk .dalam sistem ini di butuhkan pengecer pupuk di tingkat desa ,dalam hal ini satu desa satu pengecer pupuk .dengan menerapkan sistem ini pendistribusian pupuk berjalan denan lancar dan perlu di awasi. penyerapan pupuk 2008 ini sesuai rencana kebutuhan pupuk berdasarkan Peraturan Menteri pertanian Nomor 66 tahun 2006, sampai April 2008 yakni pupuk urea sudah terserap 91,13%, SP-36 108,30%, ZA 190,93% dan NPK 158,11%. Serapan jenis pupuk tertentu melebihi rencana kebutuhan

Namun, perkiraan kebutuhan pupuk urea sampai Desember 2008 mencapai 38,19%, SP-36 30,32%, ZA 35,36%, dan NPK sebesar 31,62%.

Sampai Desember 2007, jumlah pupuk yang terdaftar di Departemen Pertanian sebanyak 973 merek, terdiri atas pupuk anorganik sebanyak 703 merek, pupuk organik 174 merek, pupuk hayati 17 merek dan pupuk pembenah tanah sebanyak 82 merek. )

Menyakut penerapan pengguaan Kartu pintar maupun pencatatan detail pendistribusian pupuk itu lebih dimaksudkan untuk mencegah ulah para spekulan yang merugikan petani.

Agen dan pengecer pupuk bersubsidi diminta untuk mengawasi secara ketat proses pendistribusian pupuk. Jumlah petani pengguna pupuk dan luas areal harus jelas untuk menutup peluang spekulan, ujarnya.

Guna mencegah ulah para spekulan dan berbagai penyimpangan dalam pendistribusian pupuk bersubsidi, pemerintah telah membentuk Komisi Pengawas Pupuk dan Pestisida (KPPP) di tingkat provinsi dan kabupaten/kota, meskipun belum mencakup semua daerah.

KPPP bekerja sama dengan Penyidik PNS (PPNS) mengawasi pendistribusian pupuk dan pestisida itu agar sedapat mungkin mencegah penyimpangan sekaligus mengoptimalkan penyerapannya.

pernah di muat di tabloid sinar tani

oleh suharyanto

perbedaan pupuk

Berikut daftar perbedaqn antara sp36 asli dan sp 36 palsu mohon di publikasikan di tabloid sinar Tani agar dapat berguna bagi para petani

: Bagaimana cara membedakan pupuk SP-36 yang asli dan yang palsu ?

: Cara membedakan pupuk SP-36 yang asli & yang palsu

URAIAN

SP-36 ASLI

SP-36 PALSU

Harga

Sesuai HET

Biasanya lebih murah

Logo/tulisan pada kantong

Tampak jelas dan rapih

Terlihat kurang jelas & buram (mlobor)

Benang jahit

Berwarna 3 macam (benang merah, putih & hitam)

Benang tidak sama seperti pada kantong yang asli

Debu

Bila tangan dimasukkan ke dalam pupuk tidak ada debu yang menempel

Bila tangan dimasukkan ke dalam pupuk ada debu yang menempel/melekat di tangan

Rasa

Bila dijilat, rasa pupuk agak masam

Bila dijilat, rasa pupuk terasa masam

Bau

Bau pupuk lebih menyengat

Bau pupuk tidak menyengat

Warna butiran

Bila butir pupuk dipecah, warna bagian luar dan dalam sama

Bila butir pupuk dipecah, warna bagian luar dan dalam tidak sama

Untuk meyakinkan sebaiknya pupuk SP-36 diperiksa dalam labo- ratorium