Daftar Blog Saya

  • KIOS LESTARI TANI - *KIOS LESTARI TANI* Kami merupakan usaha dagang yang bergerak dibidang perdagangan umum, antara lain produk-produk Pestisida, Pupuk, Pupuk Organik dan o...
    13 tahun yang lalu

Entri Populer

Kamis, 31 Mei 2012

LOWONGAN STAF LINGKUNGAN


BERGABUNGLAH BERSAMA KAMI !!!
Perusahaan kami tercatat di Bursa Efek Indonesia dan tergabung di Indofood Group. PT Salim Ivomas Pratama Tbk merupakan salah satu group agribisnis terbesar di Indonesia. Kegiatan usaha kami terdiversifikasi dan terintegrasi berupa perkebunan seperti kelapa sawit, tebu dan karet hingga pengolahan dan produksi minyak goreng, margarin dan lemak nabati. Saat ini, kami mencari kandidat yang kompeten, profesional dan dinamis untuk mengisi posisi sebagai berikut :

STAF LINGKUNGAN

Kualifikasi :
  • Pria, usia maksimal 28 tahun
  • S1 Teknik Lingkungan/ Agronomi/ Ilmu Tanah/ Biologi/ Kehutanan
  • Pengalaman kerja 1-2 tahun dibidang terkait
  • Pernah mengikuti kursus/ training terkait Lingkungan, seperti AMDAL/ UKL-UPL
  • Memahami pengelolaan Lingkungan di industri perkebunan
  • Memahami Sistem Manajemen Lingkungan & K3 (SMK3)
  • Menguasai Microsoft Office dan bahasa Inggris
  • Penempatan : Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur


Jika anda merasa sesuai dengan kualifikasi di atas, kirim surat lamaran lengkap (CV, Foto Copy KTP, ijazah, transkrip nilai, sertifikat pendukung lainnya dan pasfoto berwarna ukuran 3x4) ke alamat berikut :

HR Recruitment
PT. Salim Ivomas Pratama Tbk
Sudirman Plaza, Indofood Tower Lantai 11
Jl. Jend. Sudirman Kav. 76-78
Jakarta 12910

Atau Email ke :
hr.recruitment@simp.co.id

WILMAR INTERNATIONAL PLANTATION, PT


WILMAR INTERNATIONAL PLANTATION, PT

Wilmar Group is a leading Group in Asia engaged in agribusiness and related industry. We are the largest global business processing and for palm oil and lauric oil, the largest oil palm plantation owners, and the largest biodiesel producer in the world (www.wilmar-international.com). In other to support our business growth in the Group Wilmar International Plantation, we are looking for qualified candidates to fill following position.
Trainee Specialist Field
Kompetensi:
Memiliki pengetahuan tentang perkebunan atau tanaman keras.
Persyaratan:
Terbuka untuk Fresh Graduates.
Pendidikan minimal S1 Agronomi, Hama Penyakit dan Tanaman, Ilmu Tanah, Sosial Ekonomi Pertanian, Perkebunan.
Berusia tidak lebih dari 27 tahun.
Bersedia ditempatkan di Seluruh Operating Unit Wilmar Group.
Sehat jasmani, rohani, dan tidak buta warna.
Mampu bekerja di bawah tekanan, beradaptasi dengan lingkungan, bekerja dalam tim, dan mampu bekerja sesuai dengan target.

Lakukan Register dan Lengkapi Data Diri Anda  di http://www.recruitment-wip.com/
Head Office :
Multivision Tower Lt. 15
Jl. Kuningan Mulia Kav 9B Kuningan, Jakarta Selatan

Sabtu, 19 Mei 2012

SARJANA MENJADI PETANI


Artikel ini adalah kutipan dari acara Metro TV program Zero to Hero dengan episode Sahabat Para Petani.
Kita tahu bahwa petani merupakan salah satu pekerjaan di Negara kita yang berjasa menyediakan pangan bagi presiden dan semua rakyat. Namun apakah kita tahu bahwa petani jugalah yang memiliki kesejahteraan dan kemakmuran yang tergolong kecil. Adalah H. Sakaruddin yang mempunyai prestasi mengubah keadaan dengan menambah pendapatan petani sampai 7 kali lipat lebih baik dari masa lalu. Prestasi itu didapat dari pengembangan teknologi tepat guna pada pertanian dan perkebunan di pedesaan. Teknologi tepat guna ini berhasil mengolah bahan baku seperti Jagung, pisang, ketela dan lain-lain menjadi produk setengah jadi berupa keripik atau tepung.
Beliau bernama H. Sakaruddin, pemuda pelopor asal Sulawesi Tengah lulusan Universitas Taoulako – Palu. Beliau memulai perjalanan hidup menjadi pegawai sekaligus mahasiswa pada Universitas Taoulako pada tahun 1980. Ketika itu sambil kuliah dan bekerja, iya belajar mandiri di luar kampus tentang teknologi tepat guna selama 6 tahun lalu lulus sebagai Sarjana dan melanjutkan belajar mandiri tentang teknologi tepat guna tersebut sampai 1989. Selama masa belajar tersebut, ia menghabiskan sekitar 600 buku teknologi pengolahan hasil pertanian dan hasil perkebunan. Sampai pada akhirnya dia mengajar kecil-kecilan pada masyarakat untuk mengaplikasikan teknologi tepat guna pada kehidupan sehari-hari. Sehingga banyak institusi sosial yang tertarik untuk mengundang dia untuk mengajar lalu banyak undangan dari desa-desa lain untuk mengajar  tanpa dibayar apa-apa.
Semangatnya berlanjut dengan membuat pusat pelatihan kecil-kecilan beratap rumbai dan berdinding bilah bambu. Pusat pelatihan hasil jerih payah sendiri ini bertahan 19 tahun dengan kegiatan latihan bertempat  di teras dan garasi mobil di bangunan sederhana tersebut. Sampai pada akhir tahun 1990, pusat pelatihan binaan H. Sakaruddin ini mendapat bantuan dari swadaya masyarakat dan Bank Rakyat Indonesia untuk mendirikan sebuah lembaga pelatihan resmi bernama LPTTG Serenindi – Sulawesi Selatan. Pelatihan ini mengajarkan para petani untuk memberi nilai tambah pada hasil bumi menjadi aneka produk seperti tepung beras, kerupuk tortilla dan lain2. Tahun 2000 minat LSM dan pemerintah daerah semakin besar dengan mendukung terbetuknya LPTTG yang lebih baik, sehingga berdiri LPTTG Malindo – Sulawesi Selatan pada tahun 2003.
Prestasinya tercermin dari 2 cerita berikut. Cerita pertama adalah pada Kabupaten Ngada di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Seluruh 21 Kabupaten termasuk ke golongan daerah tertinggal. Namun hal itu berubah dengan Kab. Ngada yang mendengar kiprah H. Sakaruddin dan mengirim 100 orang ke LPTTG Malindo untuk belajar membuat chips jagung.  Atas jasanya Piet Jos Nuwa Wea, bupati Ngada, menyebutkan bahwa, “Jagung yang diproduksi oleh Kabupaten Ngada berjumlah 25-26 ton setahun. Dengan harga jual 1500-2000 rupiah per kg. Tetapi jagung tersebut dapat dirubah menjadi produk lebih bermutu dengan nilai tambah minimal 38.000 rupiah per 3kg atau sekitar 13000 rupiah per kg.“ Atas penyuluhan H. Sakaruddin yang sampai ke pelosok daerah Ngada, kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat petani bisa meningkat. Hal itu belum termasuk pengolahan lainnya seperti pengolahan pisang Ngada. 1 pisang Ngada berharga 10.000 rupiah, namun kalau diolah 1 pisang bisa menjadi = 50.000 rupiah. Sehingga rakyat lebih bisa menjangkau jasa kesehatan dan jasa pendidikan dengan hasil bumi daerah sendiri beliau menambahkan.
Cerita kedua adalah berawal dari Antonius Billy, seorang preman yang berubah 180 derajat menjadi petani pembuat tortilla dari jagung di Sumba Barat Daya – NTT. Antonius terinspirasi dari penyuluhan dan pelatihan yang diberikan H. Sakaruddin. Antonius berkata,“ Saya tinggalkan semua yang kurang bagus dan saya mulai bertekun membuat Tortilla ini.” Hal ini diakui pemerintah Sumba Barat Daya sangat membantu perekonomian rakyat dari hasil produksi pertanian sendiri. Jagung yang semulanya hanya bisa diproduksi sebagai jagung bahan baku sebanyak 4 kg per hari bisa dirubah menjadi barang setengah jadi berupa keripik tortilla sebanyak 6 kg per hari. Hasil yang didapat pun sangat memadai bagi per petani yang mendapatkan omset 300.000 rupiah dan untung 150.000 rupiah per hari. Antonius menambahkan,”Yang saya rasakan betul pelatihan dan teknologi dari pak Sakaruddin ini bermanfaat bagi petani!”
Harapan H. Sakaruddin adalah Pimpinan negara dan Pimpinan daerah bisa menjadikan pedesaan sebagai pusat pertemuan, sebagai pusat kegiatan dan pusat pertumbuhan ekonomi rakyat. Dengan ini bisa dicapai perubahan kemiskinan dan perubahan mindset. H. Sakaruddin berkata,”Kalau semua orang pada lari ke kota, coba bayangkan kapan pedesaan bisa maju? Maka intinya adalah revitalisasi pembangunan pedesaan yaitu cukup menggeser kebijakan dari pusat ke desa. Sehingga desa bisa dicintai semua masyarakat.” Beliau juga berpendapat bahwa pelatihan selama ini sudah ada tapi tidak komprehensif, tidak sistematik dan tidak tuntas. Kegiatan penyuluhan dan pelatihan H. Sakaruddin mewajibkan ketika rakyat di latih, ada semacam penandatanganan perjanjian kontrak sosial antara H. Sakaruddin (pemberi pelatihan) dengan bupati (yang meminta pelatihan) agar Pimpinan daerah memberikan jaminan pemberian modal, pemberian alat kerja, pemberian izin usaha, bantuan fasilitasi pemasaran kepada para petani. Sampai pada saat ini ada tidak kurang 60 Bupati yang datang untuk menandatangani kontrak sosial Malindo.
Saat ini H. Sakaruddin dengan Lembaga Pelatihan Teknologi Tepat Guna Malindo terus berupaya meningkatkan kesejahteraan petani. Selama 23 tahun usahanya, beliau telah melatih sekitar 2000 petani dari 164 kota dan kabupaten di kawasan Timur Indonesia.
Juga tersedia link untuk menonton video tentang H. Sakaruddin pada link dibawah :
http://www.metrotvnews.com/index.php/metromain/newsprograms/2010/03/01/4835/230/Sahabat-Para-Petani

Senin, 15 Agustus 2011

STATISTIKA NONPARAMETRIKA

STATISTIKA NONPARAMETRIKA

Uji statistika parametrika (ji t dan uji F) hanya dapat digunakan jika data menyebar normal atau tidak ditemukannya petunjuk pelanggaran kenormalan dan keragaman atau variasi antara perlakuan-perlakuan atau peubah bebas yang dibandingkan homogen. Data yang memenuhi syarat tersebut skala pengukurannya menimal interval (misalnya data dalam satuan persen dan data yang interval pengukurannya ≥ 5) lebih baik lagi data yang mempunyai skala pengukuran rasional (misalnya data yang mempunyai satuan pengukuran berat,panjang,volumedansebagainya)

. Untuk data yang mempunyai skala pengukuran nominal (misalnya ada/tidak, mati/hidup.sembuh/sakit dan sebagainya) data yang mempunyai skala pengukuran ordinal (data yang ada urutannya misalnya agak sakit, sakit dan sembuh; tidak senang, senang dan amat senang; tidak ada kelainan sedikit ada kelainan dan ada kelainan; dan sebagainya). Jadi uji t dan uji F hanya bisa digunakan jika tidak ada petunjuk pelanggaran kenormalan dan keragaman antar perlakuan yang dibandingkan homogen. Untuk data yang memunyai skala pengukuran interval dan rasional bila syarat uji t dan uji F dilanggra masih bisa diusahakan dengan melakukan transformasi data jika setelah ditransformasikan belum juga terpenuhi maka harus diusahakan uji lain.

Untuk data yang tidak memenuhi syarat uji t dan ujiF dan data dengan satuan pengukuran nominal dan ordinal digunakan uji lain kelompok uji ini disebut uji statistika nonparametrika.

TINGKAT SERANGAN HAMA BUBUK BUAH KOPI (Hypothemus hampeii) DAN PENGGEREK RANTING (Xylosandrus sp) PADA PERTANAMAN KOPI DENGAN DUA TIPE AGROFORESTRI DI

TINGKAT SERANGAN HAMA BUBUK BUAH KOPI (Hypothemus hampeii) DAN PENGGEREK RANTING (Xylosandrus sp) PADA PERTANAMAN KOPI DENGAN DUA TIPE AGROFORESTRI DI SUMBER JAYA LAMPUNG BARAT

(Usul Penelitian)

Oleh

Suharyanto


PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS LAMPUNG

2011

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Luas pertanaman kopi di Indonesia saat ini telah mencapai lebih dari 1.200.000 ha yang tersebar di hampir seluruh propinsi, dengan tingkat produktivitas rata-rata 500 – 600 kg/ha/th. Kopi robusta menguasai luas areal 1.162.000 ha (92%) dan kopi arabika seluas 107.393 ha (8%). Pasar kopi dunia lebih dari 80% adalah kopi arabika dan sisanya kopi robusta. Indonesia hanya menyumbang kurang dari 1% dari kebutuhan kopi arabika dunia. Sementara itu, kopi arabika dengan cita rasa yang khas sejak dulu harga jualnya rata-rata 200% lebih tinggi daripada kopi robusta.

B. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari

C. Kerangka Pemikiran

Dalam budidaya tanaman kopi, salah satu kendala utama yang menjadi penghambat produksi baik secara kualitas maupun kuantitas adalah adanya serangan organisme pengganggu tanaman OPT. Hama merupakan salah satu organisme pengganggu tanaman (OPT) penting pada pertanaman kopi. Salah satu hama yang menyerang adalah hama buah kopi atau di kenal dengan sebutan Hama BBKo.

Hama BBKo umumnya menyerang buah kopi yang bijinya (endosperm) telah mengeras, namun pada buah yang bijinya belum mengeras pun yang telah berdiameter lebih dari 5 mm juga kadang-kadang diserang. Buah-buah yang bijinya masih lunak umunya tidak digunakan sebagai tempat berkembang biak, tetapi hanya digerek untuk mendapatkan makanan sementara dan selanjutnya ditinggalkan lagi. Kerusakan yang ditimbulkan pada serangan demikian kadang justru lebih berat, karena buah menjadi tidak berkembang, berubah warna menjadi kuning kemerahan, dan akhirnya gugur. Serangan pada buah yang bijinya telah mengeras akan berakibat penurunan jumlah dan mutu hasil (Wiryadiputra, 1994).

Minggu, 03 Oktober 2010

Program Mahasiswa Wirausaha

Program Mahasiswa Wirausaha
Bagi Kopertis dan Perguruan Tinggi Swasta
LATAR BELAKANG
Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Maret 2006 menyebutkan bahwa jumlah penduduk miskin di Indonesia pada Maret 2006 sebanyak 39,05 juta atau 17,75 persen dari total 222 juta penduduk. Penduduk miskin bertambah empat juta orang dibanding yang tercatat pada Februari 2005. Angka pengangguran berada pada kisaran 10,8% sampai dengan 11% dari tenaga kerja yang masuk kategori sebagai pengangguran terbuka. Bahkan mereka yang lulus perguruan tinggi semakin sulit mendapatkan pekerjaan karena tidak banyak terjadi ekspansi kegiatan usaha. Dalam keadaan seperti ini maka masalah pengangguran termasuk yang berpendidikan tinggi akan berdampak negatif terhadap stabilitas sosial dan kemasyarakatan.
Kondisi tersebut di atas didukung pula oleh kenyataan bahwa sebagian besar lulusan Perguruan Tinggi adalah lebih sebagai pencari kerja (job seeker) daripada pencipta lapangan pekerjaan (job creator). Hal ini bisa jadi disebabkan karena sistem pembelajaran yang diterapkan di berbagai perguruan tinggi saat ini lebih terfokus pada bagaimana menyiapkan para mahasiswa yang cepat lulus dan mendapatkan pekerjaan, bukannya lulusan yang siap menciptakan pekerjaan. Disamping itu, aktivitas kewirausahaan (Entrepreneurial Activity) yang relatif masih rendah. Entrepreneurial Activity diterjemahkan sebagai individu aktif dalam memulai bisnis baru dan dinyatakan dalam persen total penduduk aktif bekerja. Semakin tinggi indek Entrepreneurial Activity maka semakin tinggi level entrepreneurship suatu negara (Boulton dan Turner, 2005).
Untuk menumbuhkembangkan jiwa kewirausahaan dan meningkatkan aktivitas kewirausahaan agar para lulusan perguruan tinggi lebih menjadi pencipta lapangan kerja dari pada pencari kerja, maka diperlukan suatu usaha nyata. Departemen Pendidikan Nasional telah mengembangkan berbagai kebijakan dan program untuk mendukung terciptanya lulusan perguruan tinggi yang lebih siap bekerja dan menciptakan pekerjaan. Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dan Cooperative Education (Co-op) telah banyak menghasilkan alumni yang terbukti lebih kompetitif di dunia kerja, dan hasil-hasil karya invosi mahasiswa melalui PKM potensial untuk ditindaklanjuti secara komersial menjadi sebuah embrio bisnis berbasis Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Seni (Ipteks). Kebijakan dan program penguatan kelembagaan yang mendorong peningkatan aktivitas berwirausaha dan percepatan pertumbuhan wirausaha–wirausaha baru dengan basis IPTEKS sangat diperlukan.
Dengan latar belakang tersebut di atas, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi mengembangkan sebuah Program Mahasiswa Wirausaha (Student Entrepreneur Program) yang merupakan kelanjutan dari program-program sebelumnya (PKM, Co-op, KKU,...) untuk menjembatani para mahasiswa memasuki dunia bisnis rill melalui fasilitasi start-up bussines. Program Mahasiswa Wirausaha (PMW), sebagai bagian dari strategi pendidikan di Perguruan Tinggi, dimaksudkan untuk memfasilitasi para mahasiswa yang mempunyai minat dan bakat kewirausahaan untuk memulai berwirausaha dengan basis ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang sedang dipelajarinya. Fasilitas yang diberikan meliputi pendidikan dan pelatihan kewirausahaan magang, penyusunan rencana bisnis, dukungan permodalan dan pendampingan usaha. Program ini diharapkan mampu mendukung visi-misi pemerintah dalam mewujudkan kemandirian bangsa melalui penciptaan lapangan kerja dan pemberdayaan UKM.
LANDASAN PROGRAM
Pengertian Kewirausahaan adalah semangat, sikap, perilaku kemampuan seseorang dalam menangani usaha dan atau kegiatan yang mengarah pada upaya mencari, menciptakan, menerapkan cara kerja, teknologi dan produk baru dengan meningkatkan efisiensi dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik dan atau memperoleh keuntungan yang lebih besar. Kewirausahaan adalah suatu proses kreativitas dan inovasi yang mempunyai resiko tinggi untuk menghasilkan nilai tambah bagi produk yang bermanfaat bagi masyarakat dan mendatangkan kemakmuran bagi wirausahawan. Kewirausahaan itu dapat dipelajari walaupun ada juga orang-orang tertentu yang mempunyai bakat dalam hal kewirausahaan. Strategi pendidikan yang diwujudkan dalam PMW bertujuan membentuk softskill agar berperilaku sesuai karakter wirausaha.
Menurut Drucker (1985) dalam bukunya Innovation and Entrepreneurship mengemukakan perkembangan teori kewirausahaan menjadi tiga tahapan :
1. Teori yang mengutamakan Peluang Usaha. Teori ini disebut teori Ekonomi, yaitu wirausaha akan muncul dan berkembang apabila ada peluang ekonomi.
2. Teori yang mengutamakan Tanggapan orang terhadap Peluang.
a. Teori Sosiologi:
Mencoba menerangkan mengapa beberapa kelompok sosial menunjukkan tanggapan yang berbeda terhadap peluang usaha
b. Teori Psikologi:
Mencoba menjawab
· Karakateristik perorangan yang membedakan wirausaha dan bukan wirausaha
· Karakteristik perorangan yang membedakan wirausaha berhasil dan tidak berhasil
c. Teori Perilaku
Mengutamakan hubungan antara perilaku wirausaha dengan hasilnya, untuk memahami pola perilaku wirausaha. Kewirausahaan dapat dipelajari dan dikuasai, karena kewirausahaan adalah pilihan kerja, pilihan karir.
Dari ketiga teori diatas, mitos/kepercayaan bahwa “orang Indonesia itu tidak dapat menjadi wirausaha dan tidak dapat menjadi manajer” dapat diruntuhkan, karena semua kegiatan dapat dipelajari, dilatihkan, dan dapat dikuasai.
Ciri-ciri seorang wirausaha meliputi :
1. Memiliki rasa percaya diri dan mampu bersikap positif terhadap diri dan lingkungannya
2. Berperilaku pemimpin
3. Memiliki inisiatif, berperilaku kreatif dan inovatif
4. Mampu bekerja keras
5. Berpandangan luas dan memiliki visi ke depan
6. Berani mengambil risiko yang diperhitungkan
7. Tanggap terhadap saran dan kritik
Ciri tersebut dapat diwujudkan dalam berbagai kemampuan seperti dalam memilih jenis usaha, mengelola produksi, mengembangkan pemasaran, meningkatkan pengelolaan keuangan dan permodalan, mengorganisasikan dan mengelola kelompok usaha, dan mengembangkan jalinan kemitraan usaha.
TUJUAN DAN MANFAAT PROGRAM
TUJUAN :
1. Menumbuhkan motivasi berwirausaha di kalangan mahasiswa
2. Membangun sikap mental wirausaha yakni percaya diri, sadar akan jati dirinya, bermotivasi untuk meraih suatu cita-cita, pantang menyerah, mampu bekerja keras, kreatif, inovatif, berani mengambil risiko dengan perhitungan, berperilaku pemimpin dan memiliki visi ke depan, tanggap terhadap saran dan kritik, memiliki kemampuan empati dan keterampilan sosial.
3. Meningkatkan kecakapan dan ketrampilan para mahasiswa khususnya sense of business.
4. Menumbuhkembangkan wirausaha-wirausaha baru yang berpendidikan tinggi
5. Menciptakan unit bisnis baru yang berbasis ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.
6. Membangun jejaring bisnis antarpelaku bisnis, khususnya antara wirausaha pemula dan pengusaha yang sudah mapan.
MANFAAT :
1. Bagi Mahasiswa :
a. Memberikan kesempatan untuk terlibat langsung dengan kondisi dunia kerja guna meningkatkan soft skill nya.
b. Memberikan kesempatan langsung untuk terlibat dalam kegiatan nyata di UKM guna mengasah jiwa wirausaha.
c. Menumbuhkan jiwa bisnis (sense of business) sehingga memiliki keberanian untuk memulai usaha didukung dengan modal yang diberikan dan pendampingan secara terpadu.
2. Bagi UKM :
a. Mempererat hubungan antara UKM dengan dunia kampus.
b. Memberikan akses terhadap informasi dan teknologi yang dimiliki perguruan tinggi
3. Bagi Perguruan Tinggi :
a. Meningkatkan kemampuan perguruan tinggi dalam pengembangan pendidikan kewirausahaan
b. Mempererat hubungan antara dunia akademis dan dunia usaha, khususnya UKM
c. Membuka jalan bagi penyesuaian kurikulum yang dapat merespons tuntutan dunia usaha
d. Menghasilkan wirausaha-wirausaha muda pencipta lapangan kerja dan calon pengusaha sukses masa depan.
KONSEP PROGRAM
1. Kedudukan
PMW merupakan bagian dari sistem pendidikan yang ada di perguruan tinggi. Dengan demikian, PMW harus terintegrasi dengan pendidikan kewirausahaan yang sudah ada. PMW hendaknya disinergikan dengan program-program yang sudah ada, antara lain, Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), Program Coop, Kuliah Kerja Usaha (KKU) dan program kewirausahaan lain.
2. Mekanisme
Perguruan tinggi pelaksana program melakukan sosialisasi kepada para mahasiswa, identifikasi dan seleksi mahasiswa, pembekalan kewirausahaan, penyusunan rencana bisnis sambil magang di sebuah UKM. Mahasiswa yang pernah mengikuti program magang kewirausahaan (Program Coop, KKU, dan program kewirausahaan lain) dapat dibebaskan dari kewajiban magang.
Untuk mendapatkan dukungan permodalan dalam rangka pendirian usah baru (business start-up) mahasiswa harus menyusun rencana bisnis yang layak. Kelayakan recana bisnis ditentukan oleh tim penyeleksi yang terdiri dari unsur perbankan, UKM, dan perguruan tinggi pelaksana. Selama program berjalan perguruan tinggi bekerja sama dengan para pengusaha, baik UKM, koperasi maupun perusahaan besar. Pengusaha dilibatkan secara aktif untuk memberikan bimbingan praktis wirausaha, mulai dari pendidikan dan pelatihan, magang, penyusunan rencana bisnis, dan pendampingan terpadu. Harus dihindari terjadinya persaingan yang tidak sehat antara mahasiswa dan UKM pendamping. Diperlukan terjadinya sinergi atau komplementaritas antara jenis usaha yang dikembangkan mahasiswa tersebut dan jenis usaha UKM pendamping.
Pendirian usaha baru dapat dilakukan secara individual atau pun secara berkelompok dengan jumlah anggota maksimal 5 orang. Jumlah modal kerja yang disediakan untuk pendirian usaha maksimal Rp8.000.000,00 (delapan juta rupiah) permahasiswa. Pelaksanaan pendampingan pasca magang dilakukan baik oleh UKM pendamping maupun Perguruan Tinggi pelaksana selama kurang lebih 9 bulan.
Hasil akhir yang diharapkan adalah (1) terbentuknya wirausaha baru yang berpendidikan tinggi, dan (2) berkembangnya lembaga pengembangan pendidikan kewirausahaan.
3. Persyaratan bagi mahasiswa
Program ini dapat diikuti oleh mahasiswa S1 yang telah menyelesaikan kuliah 4 semester atau minimal telah menempuh 80 SKS dan mahasiswa program diploma dan politeknik yang telah menyelesaikan kuliah 3 semester atau minimal telah menempuh 60 SKS. Mahasiswa yang telah memenuhi syarat di atas harus menempuh seleksi yang meliputi minat, motivasi berwirausaha dan soft skills yang lain. Seleksi dilakukan oleh tim yang profesional.
4. Kriteria dan Seleksi Perguruan Tinggi Pelaksana
4.1. Kriteria
a. Kriteria Perguruan Tinggi Pengusul
i. Telah terakreditasi oleh BAN PT minimal B
ii. Evaluasi Program Studi Berbasis Evaluasi Diri (EPSBED) minimal 80%
iii. Komitmen pimpinan perguruan tinggi untuk mendukung pelaksanaan PMW dalam bentuk dana pendamping
iv. Pengalaman menyelenggarakan program-program kewirausahaan
v. Tidak sedang melakukan pelanggaran terhadap peraturan pendidikan
b. Kriteria Proposal
i. Kesiapan rencana pelaksanaan
ii. Kejelasan mekanisme pelaksanaan
iii. Ketersediaan fasilitas dan SDM pendukung
iv. Kejelasan indikator keberhasilan
4.2. Prosedur Penseleksian dan Pendanaan
a. Setiap perguruan tinggi mengajukan usulan PMW ke Kopertis
b. Kopertis menseleksi dan memutuskan perguruan tinggi sebagai pelaksana PMW berdasarkan kriteria tersebut di atas
c. Jumlah perguruan tinggi penerima PMW 3 sampai 4 perguruan tinggi, yang ditetapkan oleh Kopertis
d. Kopertis menyalurkan dana kepada perguruan tinggi yang ditetapkan sebagai pelaksana PMW
e. Setiap kopertis mendapatkan dana Rp1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah) dengan alokasi:
i. Pengelolaan program tingkat kopertis 10%
ii. pelaksanaan program 90% diserahkan kepada perguruan tinggi

PELAKSANAAN DAN SKEMA PEMBIAYAAN
PELAKSANAAN :
Pelaksanaan program dirancang untuk jangka waktu satu tahun (12 bulan) yang dibagi menjadi tiga tahapan yaitu tahapan persiapan, pembekalan dan pelaksanaan program. Sebelum pelaksanaan program Kopertis mengadakan pertemuan dengan Perguruan Tinggi pelaksana program berkaitan dengan teknis pelaksanaan dan pemanfaatan dana.
1. Tahap Persiapan meliputi (1-2 bulan) :
a. Sosialisasi program kepada para mahasiswa
b. Identifikasi dan Seleksi mahasiswa peserta program
c. Penyiapan tim pelaksana dan materi pembekalan
2. Tahap Pembekalan (2-3 bulan):
a. Pendidikan dan pelatihan kewirausahaan
b. Penyusunan rencana bisnis (business plan)
c. Seleksi rencana bisnis yang dilakukan dengan melibatkan pihak ketiga (perbankan, perusahaan).
d. Magang ke UKM
3. Tahap Pelaksanaan (6-9 bulan):
a. Mahasiswa atau kelompok mahasiswa memulai bisnis (start-up business) baru yang dipilih sesuai dengan rencana bisnisnya.
b. Pencairan modal kerja
c. Pendampingan terpadu oleh tim Pembina/pembimbing dari perguruan tinggi dan UKM guna membantu berbagai kesulitan yang dihadapi. Pendampingan perlu secara berkelanjutan dan tidak tergantung tahun anggaran, hal ini untuk membantu keberhasilan program.
d. Monitoring dan Evaluasi program.
SKEMA PEMBIAYAAN
Pembiayaan program berasal dari Pemerintah dengan alokasi antara lain untuk
1. Pengelolaan program oleh Perguruan Tinggi (10%), meliputi antara lain :
a. Sosialisasi program kepada Mahasiswa dan pengusaha UKM
b. Seleksi Mahasiswa
c. Seleksi UKM mitra
d. Lokakarya-lokakarya
e. Monitoring (sedang dan pasca magang)
f. Kesekretariatan (ATK)
g. Evaluasi pelaksanaan program
2. Pendidikan dan pelatihan Kewirausahaan serta Magang (20%), meliputi :
a. Pelatihan Kewirausahaan
b. Seleksi Rencana Bisnis (Business Plan)
c. Pendampingan oleh Mentor Perguruan Tinggi (9 bulan)
d. Pendampingan usaha oleh UKM (9 bulan)
3. Penyediaan modal kerja untuk memulai bisnis (start-up business) sebesar 70% yang besarnya maksimum 8 juta/mahasiswa, atau berkelompok yang terdiri dari 3 – 5 orang/kelompok dengan dana maksimum 40 juta/kelompok usaha. Besarnya dana tergantung pada jenis usaha dan rencana bisnis yang diajukan mahasiswa.
Setiap perguruan tinggi dituntut untuk lebih kreatif dalam pemanfaatan dana secara efektif dan efisien. Sebagai bahan evaluasi keberlanjutan dukungan program dari pemerintah untuk tahun-tahun berikutnya, perguruan tinggi yang paling efisien dalam penggunaan dana dan dengan jumlah mahasiswa peserta program yang lebih banyak terlibat akan mendapatkan nilai lebih dan prioritas.
Skema penyediaan modal kerja dan mekanisme pencairan dana kepada para mahasiswa diatur secara tersendiri oleh perguruan tinggi pengelola program. Untuk menunjang keberlanjutan program dan modal kerja yang telah diberikan, maka setelah bulan ke-7 mahasiswa peserta program diwajibkan memulai melaporkan perkembangan usahanya secara lebih terperinci kepada perguruan tinggi pengelola program.
KEBERLANJUTAN PROGRAM
Untuk lebih menjamin keberhasilan dan keberlanjutan PMW, perguruan tinggi pelaksana harus mempunyai lembaga yang tugas pokok dan fungsinya (Tupoksi) mengelola (perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi) dan mengembangkan (penelitian dan pengembangan) program-program pendidikan kewirausahaan bagi mahasiswa serta program lain yang terkait dengan hubungan antar lembaga. Lembaga dimaksud dapat bersifat formal struktural ataupun fungsional yang bertanggung jawab langsung kepada pimpinan perguruan tinggi. Keberadaan kelembagaan yang bertanggungjawab atas program-program pendidikan kewirausahaan merupakan salah satu pertimbangan penting bagi Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi untuk memberikan dukungan kepada Perguruan Tinggi yang bersangkutan. PIHAK YANG TERLIBAT DAN PERAN MASING-MASING
1. Kopertis, melakukan:
a. Sosialisasi kepada perguruan tinggi
b. Seleksi perguruan tinggi pengusul
c. Penetapan perguruan tinggi pelaksana
d. Penyaluran dana PMW
e. Monitoring dan evaluasi PMW
2. Perguruan Tinggi, sebagai pengelola program, melakukan :
a. Sosialisasi program kepada mahasiswa dan UKM
b. Identifikasi dan seleksi mahasiswa dan UKM
c. Kegiatan pembekalan kewirausahaan
d. Kegiatan monitoring dan evaluasi program
e. Pelaporan kegiatan
3. Mahasiswa peserta PMW wajib:
a. Mengikuti seleksi
b. Mengikuti pembekalan
c. Melaksanakan magang di UKM
d. Menyusun rencana bisnis
e. Mendirikan dan menjalankan usaha
f. Menandatangani perjanjian dengan perguruan tinggi pelaksana untuk memberikan bantuan modal kerja bagi mahasiswa PMW selanjutnya
g. Membuat laporan reguler mengenai perkembangan usaha
4. Dosen / Mentor melakukan:
a. Pendampingan
b. Mediasi antara UKM dan mahasiswa
c. Monitoring dan evaluasi kegiatan mahasiswa
d. Konsultasi mahasiswa
5. Pengusaha:
a. Melakukan bimbingan dan pendampingan usaha secara praktis
b. Memberikan saran-saran pengembangan usaha
6. Pemerintah Daerah cq. dinas yang membidangi koperasi dan UKM:
a. Memfasilitasi pelaksanaan PMW
b. Membantu mahasiswa peserta PMW dalam memulai dan mengembangkan usaha baik dari segi teknis, manajemen, informasi pasar, perijinan, dsb.
c. Memfasilitasi pengembangan jejaring bisnis
INDIKATOR KEBERHASILAN PROGRAM
Keberhasilan program dapat dilihat dari beberapa indikator : Mahasiswa Wirausaha 1. memiliki pengetahuan dan keterampilan kewirausahaan2. memiliki sikap mental wirausaha3. memiliki jejaring bisnis
Unit Bisnis1. meningkatnya jangkauan pasar 2. dipertahankannya kelancaran cash flow 3. meningkatnya jumlah dan kualitas tenaga kerja4. meningkatnya omzet dan asset5. meningkatnya jumlah dan variasi inventori
Perguruan Tinggi1. jumlah mahasiswa yang terlibat di dalam PMW2. jumlah mahasiswa wirausaha yang memulai bisnis3. jumlah unit bisnis yang berhasil diciptakan4. keberlanjutan program5. jumlah pengusaha yang terlibat dan tingkat kepuasan mereka terhadap pelaksanaan PMW6. efektifitas dan efisiensi penggunaan dana7. eksistensi lembaga pengembangan pendidikan kewirausahaan


MONITORING DAN EVALUASI
Ditjen DIKTI melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan PMW yang dilakukan perguruan tinggi pelaksana dan Kopertis baik melalui laporan maupun tinjauan lapang.
PENUTUP Demikian panduan ini disusun sebagai acuan umum bagi Kopertis dan perguruan tinggi untuk mengembangkan Program Mahasiswa Wirausaha di Indonesia. Petunjuk teknis pelaksanaan PMW ditetapkan oleh perguruan tinggi pelaksana.Jakarta, 15 November 2008